Dahlan 'Endus' Terjadinya Kartel di Komoditi Benih dan Pupuk

Dahlan 'Endus' Terjadinya Kartel di Komoditi Benih dan Pupuk

Maikel Jefriando - detikFinance
Minggu, 10 Feb 2013 14:35 WIB
Dahlan Endus Terjadinya Kartel di Komoditi Benih dan Pupuk
Jakarta - Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan Kementerian Pertanian (Kementan) harus memberantas kartel di bidang benih dan pupuk. Dahlan mmengaku telah 'mengendus' adanya kartel di kedua industri tersebut sejak awal menjabat sebagai menteri, yakni tahun 2011 silam.

"Karena waktu itu saya mencium adanya praktek-praktek yang tidak sehat," kata Dahlan usai acara peluncuran novel Surat Dahlan di lapangan Ikada, Monas, Minggu (10/2/2013)

Dua komoditas yang dicurigainya kala itu adalah benih dan pupuk. Akan tetapi karena masih dugaan, Dahlan pun tidak berani mempublikasikan, apalagi untuk membawa ke ranah hukum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dibidang benih, pupuk, tapi waktu itu saya mencium, belum tentu ada," cetusnya.

Penciuman tersebut, menurutnya dilandasi oleh beberapa faktor yang tidak baik atau dapat diartikan tidak sesuai dengan prosedur. Namun, ketika ditanyakan lebih rinci, Dahlan tak urung menjawabnya.

"Misalnya waktu tender saya lihat gejala tidak baik," jelasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha (KPPU) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) membeberkan penemuan praktik kartel terutama di daging, gula, dan ayam.

"Nanti ada di data KPPU (lebih lengkap) saya lupa. Tapi dari 9 mengerucut jadi 6 saja yang menguasai gula di seluruh Indonesia," ungkap Komisioner KPPU Munrokhim Misanam.

Selain itu, dia tidak menutup kemungkinan praktik kartel juga terjadi pada komoditas lain, sebut saja kedelai dan daging sapi yang sedang heboh. Ia tidak mau berkomentar terkait dugaan praktik kartel yang dilakukan oleh PT Indoguna Utama selaku importir daging.

"No comment (soal Indoguna), saya belum tahu. Tapi khusus daging sapi tanpa kartel pun tetap seperti itu (mahal harganya) karena permintaan. Kedelai jumlah importir yang terbatas menguasai pasokan dan itulah yang dikomplain banyak orang," tutur Munrokhim.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads