PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tidak sekedar mengembangkan pesawat hasil lisensi semata. BUMN Penerbangan ini saat dulu di bawah komando BJ Habibie pada akhir 1980-an, mulai mengembangkan pesawat asli ciptaan Indonesia yang dibuat dan dirancang di Bandung, Jawa Barat.
Terbang perdana pada Agustus 1995, PT DI berhasil menciptakan pesawat penumpang berkapasitas 50 orang dengan mesin turboprop (baling-baling), N-250 Gatotkaca.
Kemudian disusul dengan pengembangan varian N-250 Krincing Wesi berpenumpang 70 orang pada Agustus 1996. Namun, belum sempat pesawat diproduksi dan dipasarkan secara massal, proyek N250 dihentikan pada 1998 oleh Presiden Soeharto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun pengembangan N-250 telah dihentikan, tetapi secara rancangan, produk asli Indonesia lebih unggul daripada pesawat sejenis asal Eropa yakni Bombardier Q-400 yang berkapasitas 80 penumpang.
Pada rencana pengembangannya, pesawat N-250 awalnya akan dirilis dalam 4 varian, namun pada varian kedua harus berhenti. Budi menjelaskan, untuk melanjutkan proyek ini setidaknya diperlukan dana minimal US$ 1 miliar atau setara Rp 9,6 triliun.
Selain itu, PT DI perlu melakukan riset pasar mengenai pesawat tersebut, karena N-250 yang dikembangkan tahun 1990-an harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar penerbangan sekarang.
"Sekarang pasarnya minta yang beda, jadi kalau kita mengembangkan N-250, kita perlu US$ 1 miliar. Kalau kita mau yang lebih kompetitif, kita perlu US$ 2 miliar,β tambahnya.
Saat ini, dua prototipe pesawat N-250 hanya menjadi besi tua yang dijemur pada apron atau parkir pesawat milik PT DI di sebelah Bandara Husein Sastranegara Bandung Jawa Barat.
(hen/dnl)











































