Jika seritifikat tersebut telah dikantongi, maka PT DI berpeluang besar untuk menarik pasar perawatan pesawat, terutama Airbus.
"Proses untuk mendapatkan sertifikasi dan lisensi perawatan pesawat Airbus telah kita tempuh tahapannya. Saat ini kami tinggal menunggu audit dari EASA. Setelah itu ada beberapa tahapan lagi sampai akhirnya lisensinya turun," ujar Kepala Tim Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim, di kantor pusatnya, Jalan Pajajaran, Bandung, Rabu (20/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari US$ 600 juta itu, baru 20 persen saja yang dikerjakan di Indonesia. Sisanya lari ke Singapura, Malaysia, Thailand, Australia. Padahal kita melihat itu sebagai pasar yang besar untuk bisa kita kerjakan," tuturnya.
Dari 20% yang dikerjakan di Indonesia, PT DI hanya mengambil sedikit bagian, dengan pemasukan sekitar Rp 200 miliar hingga Rp 250 miliar. Selain PT DI, pengerjaan perawatan pesawat terbang juga digarap oleh GMF (Garuda Maintenance Facilities).
"Kami inginnya dari perawatan pesawat ini bisa memberi masukan sampai Rp 600 miliar," sebut Sonny.
Jika lisensi turun, maka PT DI harus menyediakan peralatan untuk perawatan Rp 10 miliar. "Tools yang kita butuhkan untuk melakukan maintenance itu bisa beli atau kita buat," tuturnya.
(tya/dnl)











































