Wakil Menteri Perindsutrian Alex SW Retraubun mengatakan langkah ini untuk menunjang program pemerintah dalam rangka hilirisasi rotan. Desainer yang didatangkan merupakan desainer dari Innovations Zentrum Lichtenfeis Jerman.
"Kerja sama dengan Innovations Zentrum Lichtenfeis Jerman dengan pihak pusat inovasi rotan nasional (Pirnas) akan menghasilkan desain yang bagus. Indonesia mempunyai bahan baku dan Jerman mempunyai teknologi pengembangan produk," kata Wakil Menteri Perindustrian, Alex S.W Retraubun pada acara MOU Pirnas dengan Innovations Zentrum Lichtenfeis Jerman di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (20/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerjasama dengan desainer Jerman diharapkan bisa menghasilkan produk yang unggul dan disukai konsumen Eropa," kata Deddy.
Saat ini, Indonesia memiliki desainer rotan dalam negeri yang tak kalah baik namun belum banyak berpengalaman. "Kita sendiri punya SDM dari Seni Rupa ITB, tapi kita belum punya pengalaman dan pasar Eropa. Untuk itu kita menggandeng Jerman untuk menguasai pasar dengan desain, teknologi prosesnya dan kita sudah mencoba dan responnya positif," katanya.
Sementara itu, desainer rotan Innovations Zentrum Lichtenfeis, Dipl Ing Auwi Stubbe menambahkan, Indonesia masih kurang dalam hal desain. Meski demikian, ia meyakini Indonesia memiliki desainer dengan potensi yang amat besar untuk menjadikan produk rotan lebih bernilai tambah.
"Kelemahan untuk industri rotan di Indonesia adalah desain produk yang dihasilkan, namun banyak desainer Indonesia dengan potensi besar bisa menghasilkan produk rotan yang sesuai pasar Eropa. Kami akan menyiapkan program pengembangan produk rotan dan pada tahun depan bisa dipamerkan produk made in Indonesia di Cologne, Jerman," pungkasnya.
(zlf/hen)











































