Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN) Teguh Budiana membenarkan adanya praktik pemotongan sapi perah. Sejatinya sapi perah hanya untuk menghasilkan susu, bukan sapi pedaging.
"Harga daging sapi naik berdampak pada sapi perah peternak yang dijual untuk dipotong," cetus Teguh di Kantor Kementerian Perindustrian, Kamis (21/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peternak saat ini berpikiran pragmatis. Menurut data yang saya dapatkan di Jabar saja ada 46 ribu sapi perah yang dipotong. Ini implikasi harga daging yang mahal dan harga susu yang rendah," imbuhnya.
Ia mengusulkan kepada pemerintah harus ada perbaikan sistem tata kelola peternakan yang baik. Jika ini tidak dilakukan, maka estimasi penyusutan produktivitas susu sapi lokal setiap tahunnya akan terus terjadi.
"Pertanak itu biaya produksi untuk menghasilkan susu Rp 4200/liter tetapi hanya dihargai Rp 4000/liter. Petani sapi perah selama ini bertahan karena ada usaha tani. Karena ada pendekatan usaha tani. Tetapi apakah kita mau pertahankan itu. Peternak saat ini cenderung berpikiran pragmatis. Produksi tahun ini akan turun. Karena sapi banyak yang dipotong. Paling tidak turun 10-15%. Saya ingin ke Menperin (menteri perindustrian) menindaklanjuti hal ini tetapi seharusnya ini tugas Mentan (menteri pertanian) yang ngurusi ini," jelasnya.
(wij/hen)











































