Diam-diam, China Serius Bikin Pesawat Jumbo Jet Lokal

Diam-diam, China Serius Bikin Pesawat Jumbo Jet Lokal

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 04 Mar 2013 15:11 WIB
Diam-diam, China Serius Bikin Pesawat Jumbo Jet Lokal
Jakarta -

Seiring melejitnya industri, China tak mau terus bergantung pada pesawat asing seperti Boeing atau Airbus. Saat ini pemerintah China sedang serius membangun sebuah pesawat jumbo jet buatan sendiri.

Pada Sabtu akhi pekan lalu, pemerintah China melakukan serangkaian percobaan utnuk mengoperasikan pesawat jumbo jetnya versi Y-20 yang merupakan pesawat transportasi terbesar.

Kepala desainer Y-20 Tang Changhong mengatakan, Y-20 tengah dirancang sebagai pesawat jet yang multifungsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keberhasilan dari te terbang Y-20 menjadi titik tolak industri penerbangan China, dan kami semakin dekat untuk bisa membangun sebuah kekuatan udara strategis," ujar Tang eperti dikutip dari Chinadaily, Senin (4/3/2013).

Dikatakan Tang, para desainer pesawat China membutuhkan waktu 5 tahun untuk bisa melakukan tes terbang dari pesawat tersebut. Saat ini pesawat terbesar di dunia adalah Antonov An-225, Ilyusin Il-76, dan Boeing C-17 Globemaster III.

Tang percaya, Y-20 ini bakal menjadi pesawat jumbo yang melayani perjalanan udara di China. Pada uji coba sebelumnya di 26 Januari 2013 lalu, pesawat ini bisa mengangkut muatan hingga 66 ton.

Selain pesawat Y-20 ini, China juga menciptakan pesawat jumbo C919 yang diharapkan bisa mulai terbang 2014.

Pemerintah China memang tengah serius mengembangkan industri pesawat. China segera menggelontorkan anggaran 100 miliar yuan (US$ 16 miliar) atau sekitar Rp 152 triliun untuk program pengembangan mesin pesawat buatan karya mereka sendiri.

Pemerintah China ingin mengurangi ketergantungannya pada produsen pesawat asing seperti Boeing, Airbus, General Electric, dan Rolls Royce seiring dengan meningkatnya kebutuhan pesawat Negeri Tirai Bambu ini.

Sejauh ini, industri pesawat terbang China gagal membangun produk mesin pesawat yang andal, dan masih bergantung pada Rusia dan negara Barat baik untuk komersial maupun militer.

Seorang profesor ahli dirgantara dari Universitas Beijing yang mengetahui bahwa dana Rp 152 triliun itu akan digunakan China untuk melakukan pengembangan riset teknologi, desain, dan material untuk industri pesawat.

(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads