"Kalau ada perkebunan sawit masuk ke desa lalu mengkonversi persawahan menjadi kebun sawit, itu sudah pasti rusak itu irigasi yang sudah dibangun sebaik mungkin," ujar Direktur Irigasi dan Rawa Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PU Eko Subekti ketika ditemui di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Kamis (27/6/2013).
Menurut Eko, rusaknya saluran irigasi ini akibat pohon sawit yang sangat rakus air. Sehingga dampaknya, daerah sekitar perkebunan sawit pasti akan tandus dan merugikan para petani lainnya yang menggunakan irigasi yang sama untuk mengairi sawah atau kebunnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Eko menambahkan, tahun ini dari total 7,2 juta hektar lahan irigasi dan sekitar 48%-nya atau mencapai 3,491 juta hektar irigasi yang dikelola Kabupaten/Kota 50% rusak, atau tidak bisa difungsikan sebagaimana mestinya.
"Kabupaten/Kota bertanggung jawab terhadap pengelolaan irigasi yang luasnya di bawah 1.000 hektar, total yang dikelola kabupaten/kota mencapai 3,491 juta hektar namun 50%-nya rusak dan tidak bisa difungsikan sebagaimana mestinya," ungkapnya.
Keberadaan irigasi yang baik, kata Eko, sangat bermanfaat untuk produksi tanaman pangan seperti beras, jagung, kedelai, dan komoditas pertanian lainnya.
"Jika irigasinya tidak baik, maka produksinya akan rendah, maka itu harus segera diperbaiki irigasi-irigasi yang rusak ini segera mungkin," ucapnya.
(rrd/dnl)











































