Direktur Marketing and Communications Djatmiko Wardoyo mengatakan, kesiapan tersebut sebagai bentuk niat perseroan untuk bisa memangkas angka impor produk ponsel di Indonesia yang angkanya masih tinggi hingga 55-60 juta unit per tahun.
"Erajaya siap untuk Foxconn. Ada latar belakang untuk ini, salah satunya bahwa ada 55-60 juta unit hp masuk ke Indonesia dan 100% dari impor. Kita bangsa konsumen dan yang untung tetap luar, dari itu timbul keinginan untuk punya basis sendiri," ujarnya saat ditemui di Capital Residence, Jakarta, seperti dikutip Kamis (1/8/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai gambaran kalau impor hp hanya bayar PPN 10% selesai. Sementara kalau merakit sendiri ada sparepart masuk kena pajak, ongkos produksi, gaji pegawai, dan lain-lain. Bisa jadi kita punya pabrik tapi produknya harganya lebih mahal. Kita sebagai partner yang dijajaki siap asal ada insentif dari pemerintah," kata Djatmiko.
Menurutnya, sudah seharusnya pemerintah memberikan insentif terkait hal ini agar mimpi Indonesia punya pabrikan perakit ponsel bisa terwujud.
"Contoh di China, pemerintah memberikan lahan gratis, bangunan, infrastruktur semuanya gratis. Gaji pegawai disubsidi pemerintah selama 3 tahun, ini kan namanya bentuk dukungan," tandasnya.
(ang/ang)











































