Dampak dari melonjaknya harga kedelai mulai dirasakan para perajin tahu-tempe. Gabungan Koperasi Tahu/Tempe Indonesia (Gakoptindo) mencatat, sedikitnya 300.000 pekerja sudah dirumahkan dengan alasan tidak kuatnya pengusaha membayar biaya produksi yang cukup mahal.
"Banyak juga dari para pengrajin yang sudah merumahkan para karyawannya. Catatan asosiasi, sampai saat ini di seluruh Indonesia ada 114.575 perajin dengan tenaga kerja sebanyak 1,5 juta. Sebanyak 20% (300.000 pekerja) dari jumlah tenaga kerja itu sudah dirumahkan," ungkap Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu/Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin kepada detikFinance, Senin (2/9/2013).
Dampak lainnya adalah, para perajin tahu dan tempe melakukan pengurangan/perlambatan jumlah produksi tahu dan tempe setiap harinya hingga 50%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan dari 114.575 perajin tahu dan tempe tersebut, sampai saat ini ada 10% yang sudah menghentikan produksinya.
"10% dari total seluruh perajin sudah berhenti produksi. Kalau tidak ada kedelai tidak ada yang mereka produksi," cetusnya.
Sampai sekarang Indonesia masih bergantung kepada kedelai impor. Ingin tahu dari mana saja Indonesia mengimpot kedelai? Ini daftarnya.
(wij/dnl)











































