Harga Kedelai 'Meroket', Ini Reaksi Para Menteri Ekonomi

Harga Kedelai 'Meroket', Ini Reaksi Para Menteri Ekonomi

- detikFinance
Rabu, 04 Sep 2013 12:20 WIB
Harga Kedelai Meroket, Ini Reaksi Para Menteri Ekonomi
Jakarta - Beberapa pekan terakhir harga kedelai di dalam negeri 'meroket' sehingga membuat para perajin tempe dan tahu kesulitan bahkan berhenti produksi. Harga kedelai sempat tembus Rp 12.000/Kg di Aceh, padahal harga rata-rata normalnya hanya Rp 7.700/Kg hingga Rp 8.000/Kg.

Hingga kini reaksi dan kebijakan pemerintah masih sebatas memberikan izin impor kedelai kepada Perum Bulog untuk stabilisasi harga, usulan mengenai penghapusan bea masuk impor kedelai tak dilakukan pemerintah.

Mengenai penyebab harga kedelai melonjak, hingga kini masih banyak versi, seperti melemahnya rupiah, masalah faktor cuaca di negara produsen kedelai dan sebagainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Dewan Kedelai Nasional, Benny Kusbini mengungkapkan lonjakan harga kedelai saat ini lebih dipicu oleh faktor internal. Struktur pasar yang monopolistik, membuat para pemain kedelai termasuk importir memanfaatkan momen melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

"Praktik kartel ini menjadi kesempatan yang baik dilakukan di saat rupiah mengalami pelemahan. Faktor rupiah melemah memang menjadi penyebab tetapi tidak signifikan. Importir tahu kebutuhan kedelai kita 80% itu dari impor jadi mereka menggoreng situasi ini sebagai situasi yang tepat," kata Benny.

Bagaimana dengan reaksi para menteri ekonomi terkait melonjaknya harga kedelai? Berikut ini tanggapannya


1. Mentan Suswono

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan untuk jangka pendek agar harga kedelai bisa turun, satu-satunya cara hanya membuka kran impor.

"Jalan satu-satunya agar harga kedelai bisa turun ya hanya dengan impor, membuka keran impor itu cara paling cepat," kata Suswono.

Ia menambahkan untuk menambah pasokan kedelai dalam negeri tentunya perlu waktu dan butuh proses penanaman. "Tapi kalau penambahan produksi kedelai tentunya perlu waktu tidak bisa cepat, ada proses penanaman yang intensif yang harus dilakukan petani," ujarnya.

Namun dengan kondisi seperti saat ini, tentunya untuk menambah pasokan kedelai dari produksi dalam negeri tidak lah mudah, pasalnya lahan pertanian yang dimiliki petani rata-rata sedikit hanya 0,5 hektar.

"Petani kita rata-rata petani gurem, punya lahan sempit di bawah 0,5 hektar, sementara kedelai sendiri merupakan pilihan terakhir petani setelah tebu, pagi dan jagung. Kalau mau nambah jumlah produksi ya harus nambah lahan, tapi kan persoalan lahan sendiri tidak mudah, ditambah lagi konversi lahan dari pertanian ke perumahan, industri dan lainnya makin tinggi," katanya.

2. Mendag Gita Wirjawan

Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan ada dua alasan utama mengapa harga kedelai impor melonjak hingga Rp 12.000/Kg padahal normalnya hanya Rp 7.000/kg.

"Saya rasa ini karena gejolak nilai tukar dan kedua anomali cuaca di Amerika Serikat," kata Gita.

Gejolak nilai tukar rupiah menjadi faktor utama melonjaknya harga kedelai di Indonesia saat ini. Perlu diketahui Indonesia masih besar mengimpor kedelai dari Amerika Serikat.

Setiap tahun Indonesia mengimpor hingga 1,5 juta ton karena produksi kedelai nasional hanya 700.000 ton sedangkan kebutuhan kedelai setiap tahunnya 2,2 juta ton.

"Harga kedelai ini sangat dipengaruhi oleh depresiasi rupiah. Turunnya kapan? tergantung nilai tukar. Kebutuhan kedelai nasional kita diisi dari importasi. Pasok cukup mayoritas datang dari luar negeri dan terpengaruh oleh nilai tukar," imbuhnya.

Sedangkan untuk faktor kedua yaitu anomali cuaca di Amerika Serikat, saat ini Gita sedang menjajaki kerjasama dengan negara lain. Negara lain yang memproduksi kedelai dengan jumlah yang cukup banyak adalah Brazil.

"Kita juga cari pasar lain untuk pasok dan bisa membantu. Langkah ini dari sisi fiskal untuk membantu. Tetapi yang pasti pasoknya cukup. Jadi kekhawatiran kawan-kawan Kopti ada tidaknya pasok ini saya rasa bisa dijawab ada dan cukup tinggal harganya," katanya.

3. Menko Perekonomian Hatta Rajasa

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan lonjakan harga kedelai di Indonesia tak semata-mata hanya karena rupiah melemah, melainkan karena juga faktor anomali cuaca. Hal ini terjadi di AS sebagai salah satu pemasok kedelai dan jagung ke Indonesia.

"Di Amerika sendiri sebetulnya ada anomali sehingga memang ada kenaikan. Coba cek ada kenaikan harga kedelai, jagung, ini kita harus waspadai. Dan juga tentu ada rupiahnya juga. Oleh karena itu, Menteri Perdagangan dalam rapat tadi, segera kita mencukupi kebutuhan dalam negeri kita agar tidak menimbulkan harga meningkat agar suplainya cukup," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurutnya impor kedelai masih dibutuhkan guna mengisi pasokan di dalam negeri yang saat ini memang sedikit, dan juga mencegah harga mahal.

Hatta menegaskan langkah impor kedelai merupakan solusi jangka pendek untuk memenuhi stok dalam negeri. Karena, dari kebutuhan kedelai nasional 2,3 juta ton/tahun, pasokan dalam negeri hanya mencapai 700 ribu-800 ribu ton.

"Kalau nggak diimpor, ya harga tinggi, pedagang tahu tempe kita nggak bisa jualan," ucap Hatta.

4. Menkop UKM Syarief Hasan

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Syarief Hasan menilai melonjaknya harga kedelai saat ini diduga karena ada upaya menahan stok yang dilakukan oleh para importir.

"Saya sudah minta para importir kedelai untuk melepas stok kedelai mereka dengan harga Rp 8.000/kg. Lebih rendah dari harga pasar agar para perajin tahu dan tempe bisa bekerja kembali," kata Syarief.

Selain itu, Syarief juga meminta Perum Bulog untuk segera merealisasikan jatah impor Bulog untuk kedelai. "Kepada Bulog segera impor kedelai untuk menjamin kebutuhan pasar," cetusnya.
Halaman 2 dari 5
(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads