1. Mentan Suswono
|
|
"Jalan satu-satunya agar harga kedelai bisa turun ya hanya dengan impor, membuka keran impor itu cara paling cepat," kata Suswono.
Ia menambahkan untuk menambah pasokan kedelai dalam negeri tentunya perlu waktu dan butuh proses penanaman. "Tapi kalau penambahan produksi kedelai tentunya perlu waktu tidak bisa cepat, ada proses penanaman yang intensif yang harus dilakukan petani," ujarnya.
Namun dengan kondisi seperti saat ini, tentunya untuk menambah pasokan kedelai dari produksi dalam negeri tidak lah mudah, pasalnya lahan pertanian yang dimiliki petani rata-rata sedikit hanya 0,5 hektar.
"Petani kita rata-rata petani gurem, punya lahan sempit di bawah 0,5 hektar, sementara kedelai sendiri merupakan pilihan terakhir petani setelah tebu, pagi dan jagung. Kalau mau nambah jumlah produksi ya harus nambah lahan, tapi kan persoalan lahan sendiri tidak mudah, ditambah lagi konversi lahan dari pertanian ke perumahan, industri dan lainnya makin tinggi," katanya.
2. Mendag Gita Wirjawan
|
|
"Saya rasa ini karena gejolak nilai tukar dan kedua anomali cuaca di Amerika Serikat," kata Gita.
Gejolak nilai tukar rupiah menjadi faktor utama melonjaknya harga kedelai di Indonesia saat ini. Perlu diketahui Indonesia masih besar mengimpor kedelai dari Amerika Serikat.
Setiap tahun Indonesia mengimpor hingga 1,5 juta ton karena produksi kedelai nasional hanya 700.000 ton sedangkan kebutuhan kedelai setiap tahunnya 2,2 juta ton.
"Harga kedelai ini sangat dipengaruhi oleh depresiasi rupiah. Turunnya kapan? tergantung nilai tukar. Kebutuhan kedelai nasional kita diisi dari importasi. Pasok cukup mayoritas datang dari luar negeri dan terpengaruh oleh nilai tukar," imbuhnya.
Sedangkan untuk faktor kedua yaitu anomali cuaca di Amerika Serikat, saat ini Gita sedang menjajaki kerjasama dengan negara lain. Negara lain yang memproduksi kedelai dengan jumlah yang cukup banyak adalah Brazil.
"Kita juga cari pasar lain untuk pasok dan bisa membantu. Langkah ini dari sisi fiskal untuk membantu. Tetapi yang pasti pasoknya cukup. Jadi kekhawatiran kawan-kawan Kopti ada tidaknya pasok ini saya rasa bisa dijawab ada dan cukup tinggal harganya," katanya.
3. Menko Perekonomian Hatta Rajasa
|
|
"Di Amerika sendiri sebetulnya ada anomali sehingga memang ada kenaikan. Coba cek ada kenaikan harga kedelai, jagung, ini kita harus waspadai. Dan juga tentu ada rupiahnya juga. Oleh karena itu, Menteri Perdagangan dalam rapat tadi, segera kita mencukupi kebutuhan dalam negeri kita agar tidak menimbulkan harga meningkat agar suplainya cukup," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa.
Menurutnya impor kedelai masih dibutuhkan guna mengisi pasokan di dalam negeri yang saat ini memang sedikit, dan juga mencegah harga mahal.
Hatta menegaskan langkah impor kedelai merupakan solusi jangka pendek untuk memenuhi stok dalam negeri. Karena, dari kebutuhan kedelai nasional 2,3 juta ton/tahun, pasokan dalam negeri hanya mencapai 700 ribu-800 ribu ton.
"Kalau nggak diimpor, ya harga tinggi, pedagang tahu tempe kita nggak bisa jualan," ucap Hatta.
4. Menkop UKM Syarief Hasan
|
|
"Saya sudah minta para importir kedelai untuk melepas stok kedelai mereka dengan harga Rp 8.000/kg. Lebih rendah dari harga pasar agar para perajin tahu dan tempe bisa bekerja kembali," kata Syarief.
Selain itu, Syarief juga meminta Perum Bulog untuk segera merealisasikan jatah impor Bulog untuk kedelai. "Kepada Bulog segera impor kedelai untuk menjamin kebutuhan pasar," cetusnya.
Halaman 2 dari 5











































