Maskapai Swasta Dalam Negeri, dari Sering Delay Hingga Bangkrut

Maskapai Swasta Dalam Negeri, dari Sering Delay Hingga Bangkrut

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Kamis, 05 Sep 2013 11:40 WIB
Maskapai Swasta Dalam Negeri, dari Sering Delay Hingga Bangkrut
Jakarta - Selain maskapai milik pemerintah, langit Indonesia juga diramaikan oleh pesawat-pesawat milik maskapai swasta. Banyak cerita menarik dalam perjalanan maskapai tersebut.

Dari mulai cerita yang seru hingga bikin kesal penumpang dan bahkan mengejutkan tanah air pernah terjadi maskapai swasta.

Yuk, kita lihat hasil penelusuran detikFinance mengenai kisah menarik dari maskapai-maskapai swasta di Indonesia, Kamis (5/9/2013).

Bangkrut, tutup, lalu bangkit lagi

Rabu 11 Januari 20111 adalah hari penerbangan terakhir PT Mandala Airlines. Mulai Kamis 12 Januari 2011 besok harinya, maskapai swasta itu menghentikan seluruh rute penerbangannya.

Mandala Airlines sudah mengumumkan masalah kesulitan keuangannya dan mengajukan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat

Calon penumpang sempat heboh karena sudah membeli tiket tapi tiba-tiba maskapai swasta tersebut tutup. Namun calon penumpang bisa tenang setelah Mandala punya investor baru.

Adalah Sandiaga Uno dan Tiger Air asal Singapura yang menjadi pemilik baru Mandala. Mandala langsung mendatangkan dua Airbus A320 dan sudah dinyatakan siap terbang oleh Kemenhub. Akhirnya Mandala kembali menerbangi pada rute-rute lama yang sebelumnya dibekukan.

Bangkrut, belum bisa bangkit lagi

Pada awal tahun ini ada satu lagi maskapai swasta yang ditutup, yaitu Batavia Air. Maskapai itu ditutup gara-gara masalah keuangan. Tim Kurator yang diketuai oleh Thurman Panggabean menduga utang PT Metro Batavia mencapai Rp 2,5 triliun.

Sejak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, pesawat-pesawat milik Maskapai Batavia Air teronggok di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Pihak Kurator menyatakan akan melelang secepatnya pesawat milik eks Batavia Air berjenis Boeing 737 seri 300 dan 400.

Sampai saat ini menurutnya ada 14 pesawat Boeing 737 seri 300-400 milik Batavia. Pesawat-pesawat tersebut diparkir di Bandara Soekarno Hatta di bawah pengawasan PT Angkasa Pura II (Persero). Sehingga pihak PT Metro Batavia mempunyai hutang kepada pihak yang bersangkutan.

Tak seperti Mandala, Batavia belum bisa mengepakkan sayapnya lagi sampai saat ini.

Jadwal penerbangan molor alias delay

Kebiasaan paling buruk dari maskapai dalam negeri adalah penerbangan yang molor alias delay. Banyak maskapai yang berkali-kali melakukan hal ini dengan berbagai alasan.

Yang terbaru adalah empat hari lalu, penerbangan maskapai Lion Air di Bandara Soekarno Hatta untuk tujuan Surabaya, Jambi, Makassar, dan Denpasar mengalami penundaan. Puluhan calon penumpang terlantar.

"Saya mau berangkat ke Surabaya, seharusnya berangkat dari pukul 17.45 WIB tapi sampai sekarang belum berangkat," ujar Amin salah seorang penumpang Maskapai Lion Air saat dihubungi detikcom, Minggu (1/9/2013)

Amin mengatakan akibat peristiwa tersebut ratusan penumpang dari maskapai Lion Air terlantar di bandara Soekarno Hata. Menurut Amin, pihak maskapai tidak dapat memberikan penjelasan.

Ada sekitar 500 orang yang terlantar, tidak terlihat tanda-tanda keberadaan pesawat saat penumpang terlantar.

Selang satu hari, para penumpang Lion Air di Bali mengamuk karena delay kembali terjadi tapi tak ada satu pun pegawai Lion Air yang bisa memastikan sampai kapan delay berlangsung.

Akibat keterlambatan jadwal penerbangan, ratusan penumpang terlantar. Mereka mengamuk, mulai dengan menggebrak meja hingga mengejar-ngejar petugas Lion Air. Kabarnya, delay tersebut karena ada sebagian karyawan yang mogok.

Masuk 'daftar hitam' Eropa

Uni Eropa (UE) memasukkan Lion Air di dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang masuk ke wilayahnya. Menanggapi hal ini, Bos Lion Air menyatakan tak peduli!

"Saya tidak peduli jika Uni Eropa melakukan blacklist terhadap kami. Pangsa pasar kami adalah Indonesia, tapi kami ingin perlakuan yang adil," tegas Presiden Direktur Lion Rusdi Kirana seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/2/2012).

Rusdi mengatakan tak bisa paham kenapa Lion Air masuk dalam blacklist Uni Eropa, sementara Garuda Indonesia dan lima maskapai lain tidak masuk daftar hitam.

Dalam daftar Uni Eropa memang ada maskapai Indonesia yang tak masuk daftar hitam yaitu Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Mandala Airlines, Ekspres Transportasi Antarbenua, Indonesia AirAsia, dan Metro Batavia.

Akibat blacklist ini berarti Lion Air tak boleh masuk ke dalam 27 negara di Uni Eropa. Daftar tersebut dibuat berdasarkan standar keselamatan.

Borong Ratusan Boeing

Pada November 2011 lalu Lion Air hari menandatangani pembelian 230 unit pesawat Boeing jenis 201 unit 737 MAXs dan 29 unit 737-900 ERs. Untuk pembelian ini, Lion Air mendapatkan kredit dari Bank Ekspor Impor AS.

Pembelian ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Boeing. Karena itu Presiden Barack Obama yang kebetulan ada di Bali, ikut menghadiri penandatangan perjanjian jual-beli ini. Nilai pembelian 230 pesawat Boeing ini adalah US$ 21,7 miliar atau Rp 195 triliun.
Halaman 2 dari 6
(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads