Ketua Kelompok Tani Swadaya Amanah, Sunarno mengatakan, sertifikat RSPO itu resmi dikeluarkan oleh lembaga RSPO internasional pada Juli 2013 lalu dengan dorongan dari World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.
Dengan adanya sertifikat itu, para petani di Kecamatan Ukui, Riau ini diberi pelatihan dan pengarahan bagaimana manajemen dan pengelolaan sawit yang benar tanpa harus memperluas lahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sunarno mengatakan, sebelum mendapat sertifikasi RSPO, beberapa tahun belakangan ini, produktivitas buah sawit berkisar 17 ton per hektar per tahun. Namun setelah mendapat sertifikasi RSPO beserta pelatihan, untuk tahun 2013 ini diperkirakan jumlah produktivitasnya meningkat menjadi 22 ton per hektar pertahun.
"Petani sudah merasakan peningkatan jumlah tandan buah segar sawit beberapa bulan belakangan ini. Untuk tahun ini kita perkirakan akan meningkat cukup besar jumlah panennya," kata Sunarno.
Tak hanya itu, menurut Suyadi, petani sawit yang tergabung dalam kelompok Amanah mengatakan, setelah mendapat sertifikasi RSPO, harga sawitnya juga mengalami kenaikan. Ini karena kualitas yang dihasilkan menjadi bagus.
"Kita diberitahu bagaimana mengelola tanaman sawit yang benar tanpa harus mempeluas lahan. Hasilnya buah sawit kita berkualitas baik dan bernilai jual tinggi. Kita menjual ke perusahaan pun menjadi mudah," katanya.
Smallholders Senior Officer WWF Riau, Dhani Rahadian mengatakan, kelompok petani swadaya 'Amanah' dari Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau menjadi kelompok tani swadaya pertama di Indonesia dan kedua di dunia yang menerima sertifikat RSPO. Ada 8 prinsip dasar yang diterapkan dalam sertifikasi RSPO ini.
"8 prinsip dasar itu yaitu, transparansi, ketaatan hukum, kelaikan ekonomi, praktek terbaik, tanggung jawab lingkungan, tanggung jawab sosial, pengembangan yang bertanggung jawab dan perbaikan terus menerus,"jelas Dhani.
"Dengan sertifikasi ini diharapkan para petani sawit dapat bekerja dan memproduksi sawit yang bermutu baik secara berkelanjutan tanpa harus memperluas lahan," tambahnya.
(jor/hen)











































