Perajin Tempe Curhat, Syarief Hasan Janji Turunkan Harga Kedelai

Perajin Tempe Curhat, Syarief Hasan Janji Turunkan Harga Kedelai

- detikFinance
Sabtu, 14 Sep 2013 16:47 WIB
Perajin Tempe Curhat, Syarief Hasan Janji Turunkan Harga Kedelai
Foto: Syarief Hasan (dok.detikFinance)
Semarang - Hari ini, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarief Hasan meninjau perajin tempe di Kelurahan Krobokan Semarang dan melakukan dialog terkait kenaikan harga kedelai.

Di salah satu tempat perajin tempe milik Mugiyanto yang berlokasi di Jalan Wiroto Raya Nomor 28, Syarief mendengarkan harapan dari perajin tempe kepada pemerintah, karena harga kedelai yang dianggap perajin tempe semakin memberatkan.

Mugiyanto berharap pemerintah bisa segera menstabilkan harga kedelai. Karena menurutnya kenaikan harga kali ini lebih parah dibanding saat krisis moneter 1998. Setidaknya jika memang ada kenaikan bisa berkisar Rp 8 ribu, tidak seperti saat ini yang mencapai Rp 9 ribu bahkan Rp 10 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya jadi perajin tempe sudah 20 tahun, kenaikan parah sudah dua kali, pertama saat krisis tahun 1998. Tapi ini lebih parah," kata Mugiyanto di rumah produksi tempenya, Jalan Wiroto Raya Nomor 28, Semarang, Sabtu (14/9/2013).

Akibat kenaikan harga kedelai, setidaknya 40 perajin tempe di kelurahan Krobokan sempat mogok produksi, bahkan di antaranya ada yang beralih profesi.

"Di Krobokan ada 35 hingga 40 perajin, banyak yang alih profesi. Diharapkan pemerintah bisa menstabilkan harga," pungkas Asrori, Pengawas Primkopti Semarang Barat.

Terkait hal itu, Syarief menyatakan pemerintah perlu segera mengendalikan harga kedelai. Saat ini harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah yaitu Rp 8.490 per kilogram ditambah ongkos kirim.

"Pemerintah sudah memutuskan harga yang akan dilempar ke perajin yaitu Rp 8.490 tambah ongkos transportasi untuk ambil di gudang, jadi tambah Rp 100 sampai Rp 150. Jadi sekitar Rp 8.650 sudah sampai perajin," ujarnya.

Selain itu, Syarief menjelaskan, kenaikan harga kedelai impor yang biasa digunakan untuk membuat tempe merupakan imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. "Saya ikuti perbincangan tadi, memang dinaikkan yang Rp 2.000 jadi Rp 2.500, kenaikan 15 persen. Itu masuk akal, karena kedelai impor yang dipakai," tegasnya.

Sementara itu terkait stok secara nasional, untuk dua bulan berikutnya, masih ada sekitar 150 ribu ton kedelai yang ada di importir, bukan Bulog. Pemerintah juga tidak melarang siapapun yang berminat untuk menjadi importir kedelai dengan syarat harga di bawah Rp 9 ribu, bahkan Bulog diimbau untuk menjadi importir serta sebagai penyangga kestabilan harga.

"Pemerintah menentukan harga dan importir setuju walaupun sedikit merugi untuk dua bulan ini. Ada sekitar tujuh importir untuk saat ini," jelas Syarief.

(alg/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads