Pabrik Cokelat di Indonesia 'Menjamur', dalam 3 Tahun Bertambah 10 Industri

Pabrik Cokelat di Indonesia 'Menjamur', dalam 3 Tahun Bertambah 10 Industri

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 19 Sep 2013 11:34 WIB
Pabrik Cokelat di Indonesia Menjamur, dalam 3 Tahun Bertambah 10 Industri
ilustrasi
Jakarta - Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan Bea Keluar terhadap ekspor biji kakao melalui Peraturan Menteri Keuangan No 67/PMK.011/2010 pada 1 April 2010 lalu, industri kakao nasional menggeliat. Kini volume ekspor biji kakao (mentah) menurun sementara ekspor kakao olahan terus mengalami peningkatan dengan ditandai bertambahnya pabrik-pabrik baru.

"Jumlah industri kakao yang pada tahun 2010 hanya 7 perusahaan, hingga 2013 bertambah menjadi 17 perusahaan," kata Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Faiz Achmad dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/9/2013)

Ia menuturkan setelah pemberlakuan Bea Keluar selama tahun 2010-2012, biji kakao yang diekspor menurun dalam kurun waktu 3 tahun yaitu sebesar 163.501 ton tahun 2012, menurun dibandingkan tahun 2011 sebesar 210.067 ton dan sebesar 432.437 ton tahun 2010.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, volume ekspor produk olahan kakao meningkat dari tahun 2010 sebesar 119.214 ton, naik pada tahun 2011 menjadi 195.471 ton dan pada tahun 2012 mencapai 215.791 ton.

Faiz mengatakan kebijakan Bea Keluar atas ekspor biji kakao telah memberikan dorongan kepada industri kakao dan cokelat Indonesia. Diperkirakan jumlah pabrik pengolahan kakao akan tumbuh menjadi 20 pabrik di 2015.

Tercatat, kapasitas terpasang industri olahan kakao/cokelat 2012 hanya 660.000 ton, diharapkan menjadi 950.000 ton/tahun pada 2015.Peningkatan ini terjadi karena ada beberapa industri yang melakukan ekspansi dan ada banyak investor yang masuk ke Indonesia.

"Pemerintah juga memberikan fasilitas Tax Allowance dalam PP No. 52 Tahun 2011 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan / di Daerah-Daerah Tertentu, serta pemberian Tax Holiday bagi industri pengolahan kakao di daerah tertentu," kata Faiz.

Berkembangnya industri kakao, lanjut Faiz, telah mendorong industri hilir makanan dan minuman berbasis cokelat untuk melakukan ekspansi, menyerap tenaga kerja, adanya multiplier effect terhadap industri pendukung seperti industri pengemasan (packaging), transportasi, perbengkelan, perbankan dan sektor lainnya.

(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads