"Kami akan terus ekspansi untuk mengembangkan penerbangan kami dengan teknologi dan untuk mendukung peengembangan potensial penerbangan di Indonesia. Pembiayaan pesawat dilakukan antara perusahaan manufaktur dengan airlines kami yaitu dengan Nordic Aviation Capital (NAC) sehingga hal ini tentunya tidak membebani neraca perdagangan Indonesia," ungkap Direktur Utama PT Garuda Indonesia Airlines Tbk Emirsyah Satar saat membuka acara di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Selasa (1/10/2013).
Turut hadir dalam acara ini Menteri BUMN Dahlan Iskan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dan CEO ATR Filippo Bagnato serta Chairman NAC Martin Moller.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah 35 pesawat itu terdiri dari 25 pesawat berupa 'film order' dan 10 pesawat berupa 'options'. Pesawat-pesawat ini untuk melayani penerbangan point to point pada rute-rute jarak dekat.
"Kapasitasnya 70 penumpang untuk melayani penerbangan dari hub maupun spoke Garuda Indonesia, di antaranya Denpasar, Makassar, dan Ambon menuju Labuan Bajo, Tambolaka, dan Ende di NTT, Bima NTB, Banyuwangi, Jember, Bau-bau, dan Wangi-wangi di Sulteng, Luwuk, Mamuju, Poso, Kaimana, serta Tual," katanya.
Sementara itu, Chairman NAC Martin Moller menyambut baik kerjasama antara NAC dan Garuda Indonesia serta ATR dalam upaya peningkatan konektivitas sektor transportasi udara di Asia Tenggara terutama di Indonesia.
"Pesatnya pertumbuhan industri penerbangan di wilayah ini menjadi bisnis yang luar biasa bagi kami. Dan ATR 72-600 merupakan pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan akan armada yang mampu beroperasi di bandara kecil maupun daerah terpencil," katanya.
(wij/hen)











































