Namun, sang presiden ketiga Indonesia ini bilang, ide pembuatan pesawat dalam negeri bukanlah idenya. Lantas, ide siapa?
Habibie bilang, ide mendirikan industri dirgantara sendiri adalah gagasan rakyat dan para pendiri bangsa ini. Presiden Sukarno pernah mengatakan bangsa ini membutuhkan pesawat pengangkut karena melihat kondisi bentang geografis Indonesia yang panjang dan terdiri dari ribuan pulau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie mengatakan, untuk membangun tak bisa tanpa prasarana ekonomi. Dalam prasarana ekonomi, yang penting adalah gerakan manusia, barang, dan informasi. “Nah di sini, satu-satunya adalah kapal terbang,” katanya.
Dari ide inilah, kata Habibie, industri dirgantara yang strategis itu dibangun. Habibie bilang, industri dirgantara yang dibangunnya tidak untuk keperluan berperang, melainkan untuk melawan kemiskinan dan ketidakadilan.
“Saya mulai dengan 20 orang. 50 tahun kemerdekaan itu bukan dongeng, kapal bisa terbang. Waktu kapalnya terbang, industri dirgantara ada 16 ribu orang, industri strategis 48 ribu orang, turn over US$ 10 billion. Punyanya Habibie nol,” kata Habibie.
Bagaimana industri dirgantara saat ini? Habibie menilai, industri ini membutuhkan suntikan modal dari pemerintah. Begitu juga sejumlah institut yang membidangi riset seperti Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). “Bukan dari saya dong,” katanya. “Kalau mendesain airplane, I'll make it for them.”
(DES/DES)











































