Tapi krisis ekonomi melanda negara-negara Asia, tidak terkecuali Indonesia. Nilai tukar rupiah anjlok, sistem perbankan terguncang hebat, inflasi meroket, pengangguran dan kemiskinan pun meningkat.
Krisis ekonomi pada 1997-1998 berujung pada ketegangan sosial dan runtuhnya rezim pemerintahan Orde Baru. Setelahnya, seluruh warisan Orde Baru dianggap jelek. Penataran P4, ABRI Masuk Desa, dan berbagai program yang ditelurkan rezim ini dihapus. Pengembangan industri pesawat terbang pun tidak luput dari fenomena ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie, salah seorang tokoh yang membesarkan industri dirgantara dan IPTN, mengatakan dirinya dilanda keprihatinan yang mendalam saat itu. Ibarat manusia, industri dirgantara Indonesia saat itu seakan-akan dibunuh.
“Kalau ada orang tikam dia, itu namanya murder. Kriminal,” kata Habibie kepada detikFinance, pada Selasa lalu.
Presiden ketiga RI ini memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan PT Dirgantara Indonesia. Banyak karyawan PT Dirgantara Indonesia yang dididik dan disekolahkannya.
“Anak-anak yang saya berikan beasiswa halal, saya enggak curi uang, saya juga enggak KKN. Saya peduli bahwa dia benar-benar the right man or the right girl. Karakternya baik. Tapi hei, dalam rangka reformasi, dia dihancurin,” tutur Habibie dengan suara bergetar.
Habibie bilang, dalam hati dirinya sebetulnya ingin berontak. Namun untuk menghindari polemik panjang, Habibie memilih diam dan mengalah. “Saya mikir kalau saya berontak bisa perang. Ada yang ketawa karena ada orang-orang yang mau kita pecah lalu ambil bagian masing-masing. Saya mengalah untuk menang,” kata pria yang kisah cintanya diabadikan menjadi film Habibie & Ainun ini.
Padahal, Habibie mengatakan bahwa Indonesia hampir mencapai kejayaan dalam industri dirgantara. N250 sudah berhasil terbang dan sedikit lagi mendapatkan sertifikat. Bahkan sudah ada pabrik perakitan N250 di Alabama (Amerika Serikat) dan Stuttgart (Jerman).
Pesawat jet N2130 pun seharusnya sudah bisa terbang pada 2003. “Akhirnya apa? Anak-anak yang saya didik tidak boleh kerja di dalam negeri. Ke mana mereka? Boeing, Airbus, Brasil, Turki, semua,” kata Habibie.
Salah satu eks pegawai PT Dirgantara Indonesia adalah Gemini Bangu. Pria ini bergabung di PT Dirgantara Indonesia pada 1989, dan sejak 2001 merapat di pabrikan pesawat terbang Amerika Serikat, Boeing.
"Saya terlibat di proyek N250 dan N2130. Setelah itu saya itu saya diterima di Boeing," kata Gemini yang menghadiri Kongres Diaspora Indonesia, pada Agustus lalu.
Menurut Gemini, setidaknya terdapat 30 karyawan Boeing yang merupakan eks PT Dirgantara Indonesia. Gemini menyayangkan N250 dan N2130 harus berhenti dan dia berharap kedua proyek ini bisa dikembangkan kembali.
"Kalau itu berhenti, berhenti semua dan susah untuk mulai lagi. Kalau kita berhenti sekarang, generasi berikutnya tidak ada,” ucap Gemini.
(DES/hen)











































