Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan mobil listrik 'Lamborghini' dari segi tampilan sangat bagus, tapi sulit sepertinya diproduksi massal.
"Mobilnya bagus, tapi sulit untuk diproduksi massal," kata Budi dihubungi detikFinance, Selasa (8/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendala pertama, terbatasnya teknologi baterai saat ini.
"Pertama baterai, teknologi baterai saat ini maksimal hanya dapat menempuh jarak 100 km. Untuk bisa capai jarak 100 km dibutuhkan baterai yang beratnya 200 kilo gram. Bayangkan kalau kita mau pergi dari Jakarta ke Cirebon? habis di jalan, kalau mau tambah jadi 200 km ada tambahan baterai 200 kilo gram lagi di belakang dong, jok mobil belakang harus dicopot," ungkapnya.
Kendala utama yang kedua yakni infrastruktur pengisian mobil listrik masih sangat minim.
"Kalau habis dijalan, tidak ada tempat pengisian mobil listrik, apalagi tempat pengisian mobil listrik itu juga harus khusus, yang bisa mengisi baterai dengan cepat, biar isinya cepat penuh, nah sampai sekarang ini belum ada di Indonesia," tandasnya.
(rrd/dru)











































