Dahlan Iskan Tak Mau Ributkan Siapa yang Akan Ambil Alih Inalum

Dahlan Iskan Tak Mau Ributkan Siapa yang Akan Ambil Alih Inalum

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 10 Okt 2013 12:38 WIB
Dahlan Iskan Tak Mau Ributkan Siapa yang Akan Ambil Alih Inalum
Foto: Dahlan Iskan (dok.detikFinance)
Jakarta - Pemerintah Indonesia memang akan mengambil alih 58,87% saham PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) dari perusahaan Jepang yaitu Nippon Asahan Alumunium (NAA). Eksekusi akan dilakukan 31 Oktober 2013.

Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan tak mau terlibat dalam proses pengambilalihan Inalum, sehingga tidak akan ada konflik. Dia tak mau memperdebatkan apakah Inalum akan jadi BUMN atau diakuisisi BUMN, yang penting adalah Inalum bisa diambil alih Indonesia.

"Saya nggak mau terlibat di situ. Dikira BUMN mau. Yang penting Inalum harus kembali ke Indonesia. Jangan berkelahi di sana. Siapun yang penting serah terima dari perusahaan Jepang ke Indonesia. Semua siap," ucap Dahlan usai rapim Kementerian BUMN di Kantor Pusat PT Askes, Jakarta, Kamis (10/10/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, setelah proses pengambilalihan tuntas, Kementerian BUMN siap menerima penugasan yang diberikan oleh pemerintah mengelola Inalum.

"Inalum tanggal 31 Oktober sudah dilepas Kepang menunggu perusahaan Indonesia. Itu karyawan PT Inalum nggak usah gelisah. Itu akan tetep berjalan baik," sebutnya.

Inalum adalah usaha patungan pemerintah Indonesia dengan Jepang. Proyek ini didukung aset dan infrastruktur dasar, seperti pembangkit listrik tenaga air dan pabrik peleburan aluminium berkapasitas 230-240 ribu ton per tahun.

Pemerintah Indonesia memiliki 41,13% saham Inalum, sedangkan Jepang memiliki 58,87% saham yang dikelola konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA). Konsorsium NAA beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang mewakili pemerintah Jepang 50% dan sisanya oleh 12 perusahaan swasta Jepang.

Berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kontrak kerja sama pengelolaan Inalum berakhir 31 Oktober 2013.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads