"Pabrik gula di Cirebon (Jatibarang dan Jatitujuh) kalau kita berkunjung ke sana itu serasa di Amsterdam. Mesinnya masih pakai mesin Belanda karena memang peninggalan Belanda. Proses juga tidak efisien," cetus Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron saat rapat kerja di Gedung Komisi IV DPR Jakarta, Kamis (10/10/2013).
Pabrik gula (PG) Jatibarang adalah pabrik gula peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1842 yang dimiliki oleh PTPN IX (Persero). Sedangkan PG Jatitujuh saat ini dimiliki oleh BUMN PT. Rajawali Nasional Indonesia (RNI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program swasembada gula tahun 2014 sia-sia. Selama ini gula tebu semakin didesak oleh keberadaan gula rafinasi," tuturnya.
Menurut Herman, konsumsi gula pasir di tahun 2014 diproyeksi mencapai 5,7 juta ton termasuk untuk industri dan sektor rumah tangga. Kebutuhan gula untuk konsumsi di tahun 2014 diproyeksi mencapai 2,96 juta dan 2,74 juta ton untuk sektor industri. Sedangkan kapasitas produksi di dalam negeri diperkirakan hanya 2,7 juta ton.
"Asumsinya adalah sisa kebutuhan tinggal 3,2 juta dan itu harus impor," imbuhnya.
Saat ini saja, menurut Herman, ada 11 pabrik pengolahan gula rafinasi yang berdiri di Indonesia. Setiap tahun, 11 pabrik gula tersebut mengimpor raw sugar (gula mentah) dengan jumlah yang cukup besar yaitu mencapai 3,4 juta ton.
(wij/hen)











































