Pengusaha Tekstil: Tarif Listrik di Korsel 6 Sen/Kwh, di RI 9 Sen/Kwh

Pengusaha Tekstil: Tarif Listrik di Korsel 6 Sen/Kwh, di RI 9 Sen/Kwh

Wiji Nurhayat - detikFinance
Jumat, 18 Okt 2013 14:28 WIB
Pengusaha Tekstil: Tarif Listrik di Korsel 6 Sen/Kwh, di RI 9 Sen/Kwh
Jakarta - Rencana pemerintah mencabut subsidi listrik industri tahun depan, khususnya untuk golongan I-IV ditolak pengusaha tekstil. Tarif listrik di Indonesia mahal.

"Kita menolak tetapi ini baru rencana belum ada keputusan resmi apakah akan diimplementasikan atau tidak di tahun 2014," ungkap Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat saat ditemui di JIExpo Kemayoran Jakarta, Jumat (18/10/2013).

Ade mengatakan, bila dibandingkan dengan Vietnam dan Korea Selatan, tarif listrik di Indonesia mahal. Akibatnya produk Indonesia sulit bersaing dari sisi harga dengan produk asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perbandingan harga listrik Indonesia di Vietnam dan Korea Selatan itu jauh lebih mahal. Korea tarif listriknya 6 sen/kwh sedangkan Vietnam juga sama. Kalau kita bisa sampai 9 sen/kwh. Tetapi ada perhitungan yang disembunyikan oleh PLN mengapa ada subsidi tetapi tarif listrik masih mahal," imbuhnya.

Bila rencana pemerintah mencabut subsidi listrik tahun depan dilakukan, maka dipastikan harga produk tekstil dan produk tekstil (TPT) akan naik. Kenaikan harga tergantung berapa besar tingkat kenaikan tarif dasar listrik yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Kita mau tahu berapa costnya PLN ini untuk menghasilkan listrik. Kalau mereka bilang gunakan BBM untuk dapatkan listrik pasti lebih mahal harganya. Kalau menggunakan batubara dan gas pastinya lebih murah. Pasti naik harga produknya dan kalau naik harganya pasti tidak ada yang beli dan hasilnya kita akan bangkrut," cetusnya.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads