Pengusaha Anggap Pemerintah Kurang Serius Lobi Uni Eropa Soal Sawit

Pengusaha Anggap Pemerintah Kurang Serius Lobi Uni Eropa Soal Sawit

Wiji Nurhayat - detikFinance
Selasa, 22 Okt 2013 12:33 WIB
Pengusaha Anggap Pemerintah Kurang Serius Lobi Uni Eropa Soal Sawit
Jakarta - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Chris Kanter menanggapi masalah nasib produk sawit Indonesia di Uni Eropa yang terkena isu negatif soal lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah lobi pemerintah Indonesia ke Uni Eropa yang belum optimal.

"Lobi pemerintah kita ke Uni Eropa atas sawit ini belum atau kurang optimal. Harus ada ekstra yang harus kita lakukan karena standar produk di Eropa cukup tinggi," kata Chris usai acara EU-Indonesia Business Dialogue di Hotel Shangrilla Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Sama seperti kendaraan, menurut Chris standar tertinggi kendaraan yang boleh melintas atau diperjualbelikan di Eropa harus memenuhi kriteria Euro 5. Oleh karena itu produk CPO dan turunannya harus disesuaikan dengan standarisasi yang diberlakukan Uni Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Contoh mobil harus harus Euro 5. Kalau CPO kondisinya sekarang masih dalam perundingan. Mau tidak mau kita harus sesuaikan kalau kita sawit kita akan direstruksi oleh Eropa," imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menyampaikan tahapan perundingan dan negosiasi atas produk CPO masih panjang. Hal ini dilakukan agar produk CPO Indonesia bisa diterima baik di Uni Eropa.

"Saya akan terus jalankan, kami akan terus negosiasi. Awal tahun depan kita akan ketemu (dengan Uni Eropa) lagi untuk level teknikal," katanya.

Produk CPO Indonesia dianggap Uni Eropa tidak ramah lingkungan bahkan dipandang merusak kesehatan. Di sisi lain pihak Uni Eropa mengajak Indonesia masuk dalam perdagangan bebas menyeluruh atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

"Kalau kita lihat CEPA ini bisa diimplementasikan tetapi menunggu CPO dan ekspor lainnya bisa diselesaikan. CPO adalah produk yang ramah lingkungan dan telah mempunyai sertifikasi sustainable," kata Bayu.
.
Padahal produksi CPO Indonesia di tahun 2012 lalu mencapai 26,5 juta ton. Sebanyak 18 juta ton CPO diekspor dan menghasilkan devisa sebesar US$ 21 miliar atau sekitar Rp 205 triliun. Jumlah ini setara dengan 13,7% dari ekspor non-migas Indonesia, yang besarnya mencapai US$ 153 miliar. Perlu diketahui, Indonesia adalah penghasil utama sawit dunia bersama Malaysia, kedua negara menyumbang 90% produksi CPO dunia.

"CPO sangat pentingnya untuk Indonesia selain produk kayu. Ini sebuah pandangan yang fair," imbuhnya.

Perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa terus meningkat dari tahun ke tahun. Tetapi di tahun 2012, nilai perdagangan keduanya mengalami penurunan karena resesi ekonomi yang terjadi di Eropa.

Tahun ini, Indonesia menargetkan nilai perdagangan dengan Uni Eropa mencapai US$ 32-33 miliar atau tumbuh 8,5% dari tahun lalu. Sedangkan di tahun 2014 meningkat kembali menjadi US$ 35-36 miliar. Bahkan terus meningkat menjadi US$ 40-45 miliar di tahun 2015-2016.

"Kita masih lihat kondisi Eropa yang belum pasti saat ini dan kita berharap ekonomi Eropa segera pulih karena mitra dagang terbesar kita. Saya kira adanya CEPA akan memperlancar dan mempermudah baik mengurangi kebijakan tarif dan non tarif," cetusnya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads