Mengenai anggarannya, pihak Pemprov akan menggandeng pihak ketiga seperti PT Toba Sejahtera di bawah Luhut Binsar Panjaitan, yang merupakan Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag).
"Ini soal teknis, jadi artinya bagaimanapun juga kita pemda uangnya tidak sebanyak yang harus kemudian diberikan kalau kita mengambil allih semua. Ada pertimbangan kita pinjam lalu kita bekerjasama dengan pihak ketiga," kata Gatot saat rapat kerja dengan Komisi VI bersama 4 menteri ekonomi, Selasa malam (22/10/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pengelolaan Inalum oleh Pemprov sangat penting karena di dalamnya ada pembangkit listrik Asahan yang bisa mengatasi krisis listrik di Sumut.
"Saya katakan konsorsium dalam hal ini pemerintah daerah dalam hal ini pemrpov dan kabupaten kota bekerja sama dengan swasta, siapa swasta yang berbicara dengan intens adalah PT Toba Sejahtera dan Apemindo," katanya.
Sebelumnya para kepala daerah di Sumatera Utara (Sumut) merapat ke DPR-RI. Gatot Pujo Nugroho & 10 Bupati di Sumut menggelar rapat dengan Komisi VI DPR-RI. Rapat membahas tentang kelanjutan kontrak karya Inalum dengan pihak NAA Jepang.
"Posisinya Pemprov Sumut meminta pemerintah pusat tidak memperpanjang kontrak karya, agar selanjutnya dikelola BUMN/BUMD. Ini juga terkait dengan PLTA Asahan yang saat ini 70% suplai listriknya dipasok untuk operasional PT Inalum," katanya beberapa waktu lalu.
Pemerintah Indonesia memiliki 41,13% saham Inalum, sedangkan Jepang memiliki 58,87% saham yang dikelola konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA). Konsorsium NAA beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang mewakili pemerintah Jepang 50% dan sisanya oleh 12 perusahaan swasta Jepang.
Berdasarkan perjanjian RI-Jepang pada 7 Juli 1975, kontrak kerja sama pengelolaan Inalum berakhir 31 Oktober 2013.
(zlf/hen)











































