Arifin Panigoro Sebut Kampanye Negatif Sawit karena Persaingan Dagang

Arifin Panigoro Sebut Kampanye Negatif Sawit karena Persaingan Dagang

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 23 Okt 2013 11:32 WIB
Arifin Panigoro Sebut Kampanye Negatif Sawit karena Persaingan Dagang
Jakarta -

Kampanye negatif terhadap produk sawit yang dianggap sebagai produk tidak ramah lingkungan menjadi perhatian pendiri dan pemilik Grup Medco Arifin Panigoro

Arifin mengatakan isu negatif produk sawit karena persaingan perdagangan. Ia melalui PT Medco Energi Internasional (MEDC) juga salah satu yang masuk ke bisnis perkebunan sawit.

"Isu soal lingkungan yang disebabkan oleh produk sawit itu hanya persaingan perdagangan saja," kata Arifin saat ditemui detikFinance usai Lokakarya Biodiesel III/2013 di Gedung BPPT Jakarta, Rabu (23/10/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini Uni Eropa, termasuk paling gencar menolak produk sawit Indonesia dengan alasan lingkungan. Di Eropa produk minyak nabati banyak dihasilkan dari minyak bunga matahari, maupun rapeseed oil dan lain-lain yang produktivitasnya masih di bawah sawit.


Menurut Arifin Indonesia sangat bergantung bahan bakar minyak (BBM) impor dalam jumlah yang cukup besar dari negara lain. Bahkan importasi dilakukan setiap hari dan cukup memberatkan beban keuangan negara.

"Kebutuhan bahan bakar kita hari ini sangat tergantung pada bahan bakar minyak (BBM) impor. Tidak hanya BBM, minyak mentah juga kita impor karena cadangan minyak kita tinggal sedikit. Saya dengar belinya itu antara US$ 100-150 juta/hari. Kalau beli BBM di SPBU pakai rupiah dan pemerintah membeli BBM menggunakan ratusan juta dolar itu yang sangat berat," imbuhnya.

Sehingga ia mendorong penggunaan energi alternatif lain seperti biodiesel untuk menggantikan bahan bakar jenis minyak, yang sumbernya dari minyak sawit. Dikatakan Arifin, kualitas bahan bakar jenis biodiesel jauh lebih baik bila bahan bakar jenis fosil (solar) karena tidak mengandung sulfur.

"Kualitas biodiesel terus ditingkatkan dengan teknologi terbaru yang jauh lebih baik. Produk minyak bumi itu masih ada kandungan sulfurnya kalau bahan bakar nabati (biodiesel) ini tidak. Indonesia ini produksi kepala sawit 30 juta ton/tahun dan ini sangat besar. Bahkan bisa 100 juta ton atau nilainya US$ 100 miliar itu produksi dalam negeri. Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana membuat pabrik biodiesel yang lebih baik," katanya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads