Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 30 Okt 2013 09:55 WIB

Geliat Industri Animasi di Indonesia (1)

Animasi, Berkembang Tapi Belum Kelas Wahid

- detikFinance
Game Nusantara Online Game Nusantara Online
Jakarta - Anda pasti tahu film Iron Man. Ternyata di balik film itu ada anak Indonesia yang terlibat. Andre Surya namanya.

Andre adalah seorang digital artist yang sebelumnya bekerja di Lucasfilm. Selain Iron Man, dia pernah menggarap Iron Man Kingdom of Crystal Skull, Surrogates, The Last Airbender, dan Rango.

Kini Andre melihat peluang di tengah industri animasi yang sedang berkembang. Dia mendirikan sekolah khusus mengajarkan teknik-teknik animasi di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Menurut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 06 Tahun 2009, animasi termasuk ke dalam 15 jenis industri kreatif. Potensinya, menurut Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sangat besar.

Pendapatan industri kreatif tahun ini diperkirakan tumbuh 10 persen atau mencapai Rp 600 triliun. Kalau dihitung-hitung, tahun ini industri kreatif menyumbang tujuh persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Ke depan, industri ini bisa menjadi penopang ekonomi Indonesia dan tidak perlu lagi bergantung pada sumber daya alam. “Saya melihat kreativitas sebagai harapan masa depan kita. Ini sangat menjanjikan dan berkelanjutan," kata Mari, di Jakarta, baru-baru ini.

Animasi dapat diartikan sebagai bentuk karya seni untuk menciptakan gambar yang bergerak. Jika dulu animasi hanya sebatas dua dimensi, kini animasi sudah dibuat dengan teknik tiga dimensi sehingga menciptakan rangkaian gambar yang terlihat sangat nyata.

Produksi animasi Indonesia sebetulnya sudah dimulai pada 1970-an. Ketika itu, lahir studio animasi bernama Anima Indah. Namun sayang, studio ini tidak sempat membuat film dan lebih berkonsentrasi pada produksi iklan.

Industri animasi di Indonesia mulai berkembang pada 1980-an. Si Huma adalah serial animasi yang cukup digandrungi anak-anak kala itu. Memasuki era 1990-an, semakin banyak produksi animasi yang diciptakan. Salah satunya adalah Satria Nusantara.

Pada periode 1990-an pula sejumlah animator Indonesia mulai kondang di mancanegara. Beberapa di antaranya ikut menggarap animasi beken seperti Doraemon.

Kini berbagai studio animasi bermunculan dengan karya-karya besar. Seperti Janus: Prajurit Terakhir, yang telah menghiasi layar bioskop di nusantara.

Meskipun industri animasi di Indonesia sedang berkembang, Benny Kurniawan, pendiri Sinergy Studio, menilai saat ini belum ada produksi yang termasuk kelas wahid seperti di Amerika Serikat atau Jepang. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia sudah punya Upin & Ipin yang gaungnya sampai di mana-mana.

“Indonesia memiliki banyak animator andal, tetapi sumber daya manusia yang ada belum termaksimalkan. Resource yang ada perlu bekerjasama dan menciptakan produksi yang mendunia,” kata Benny.



(DES/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed