Ini Bedanya Sapi yang Diangkut dari Australia dengan NTB dan NTT

Ini Bedanya Sapi yang Diangkut dari Australia dengan NTB dan NTT

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 07 Nov 2013 19:25 WIB
Ini Bedanya Sapi yang Diangkut dari Australia dengan NTB dan NTT
Jakarta - Masalah buruknya sistem logistik angkutan sapi hidup di dalam negeri masih menjadi alibi pemerintah soal terhambatnya pasokan daging dari sentra sapi ke wilayah konsumsi sapi seperti Jabodetabek.

Akibat sistem logistik yang buruk, sapi yang diangkut dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) justru melorot bobotnya saat tiba di daerah tujuan, kondisi ini berlawanan dengan sapi impor yang dikirim dari Australia.

"Bawa dari NTB, NTT sapi itu tidak mudah dan tidak murah, dia harus dibawa pakai kapal dulu, baru sampai di Tanjung Perak, Surabaya, dari sana dibawa lagi pakai truk," ungkap Direktur Jenderal Perternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro ditemui di Kantornya, Ragunan, Kamis (7/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syukur mengakui akibat buruknya transportasi serta buruknya proses pengangkutan sapi dari daerah sentral produksi di Indonesia ke wilayah tujuan membuat dampak negatif terhadap sapi.

"Di perjalanan sapi kepanasan, kehujanan, tidak diberi air, jarang makan, akibatnya bobot sapi turun hingga 30%, bahkan jika ada sapi yang hamil bisa keguguran selama perjalanan, dan parahnya lagi bisa sebagian sapi mati karena proses angkutannya yang buruk," terang Syukur.

Syukur menambahkan hal ini berbeda dengan pengiriman sapi dari Australia, sapi diangkut dengan kapal khusus dan di dalam kapal sapi diperlakukan istimewa seperti pelayanan hotel.

"Dari Australia diangkut dengan kapal khusus sapi, kapalnya seperti hotel bagi sapi, makanan tercukupi, minuman selalu tersedia, sampai pelabuhan turun dari kapal dengan tangga, bobotnya justru naik 10%, kalau kita malah turun 30%, sudah turun 30% besoknya langsung dipotong. Jadi kita itu bukan tidak ada sapi, sapinya ada, bahkan banyak, tapi bawanya ke pasar itu yang nggak mudah," tandasnya.

Ia menuturkan kebutuhan sapi untuk mencapai target swasembada sapi 2014 mencapai 575.000 ton sementara potensi sapi yang ada mencapai 535.000 ton, namun tidak mudah mendapatkannya karena masalah transportasi.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads