"Sebagian besar kebutuhan kedelai kita kan berasal dari impor. Begini bisa jadi di sana (negara produsen kedelai) harganya sudah turun tetapi yang beli ini (importir) sengaja bilang harganya masih tinggi dan perajin mau tidak mau beli karena butuh seperti aksi profit taking (ambil untung)," kata Benny kepada detikFinance, Jumat (8/11/2013).
Menurutnya, aksi semacam ini sering dilakukan apalagi kebutuhan kedelai di dalam negeri cukup tinggi. Per tahun kebutuhan kedelai di Indonesia diperkirakan 2,2 juta hingga 2,5 juta ton/tahun. Sedangkan produksi kedelai di dalam negeri hanya 750.000 hingga 800.000 ton/tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meminta pemerintah lebih serius untuk menangani masalah kedelai ke depan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat rancana strategis produksi kedelai nasional dan menyediakan cadangan stok kedelai untuk 3 bulan.
"Pemerintah harus punya blueprint yang kongkret tentang pengadaaan pangan terutama kedelai di dalam negeri agar kasus semacam ini tidak terjadi lagi," cetusnya.
(wij/hen)











































