Minta Suku Cadang Pesawat Bebas Pajak, Bos Citilink dan Garuda Temui MS Hidayat

Minta Suku Cadang Pesawat Bebas Pajak, Bos Citilink dan Garuda Temui MS Hidayat

Zulfi Suhendra - detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 16:08 WIB
Minta Suku Cadang Pesawat Bebas Pajak, Bos Citilink dan Garuda Temui MS Hidayat
Arif Wibowo
Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat siang ini disambangi oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Carriers Air Assosiation (INACA) Arif Wibowo yang juga Direktur Utama Citilink di kantor Kemenperin, Jakarta. Ketua INACA juga didampingi oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.

Tujuan mereka menemui MS Hidayat, meminta pemerintah membebaskan bea masuk (pajak) untuk impor komponen/suku cadang pesawat terbang.

"Tadi yang dibicarakan di dalam adalah mengenai sparepart pesawat. Yaitu untuk meningkatan daya saing kami ingin ada pembebasan bea masuk untuk sparepart pesawat. Karena sparepart pesawat adalah barang spesifik yang tidak diproduksi di Indonesia dan negara lain dibebaskan," kata Arif saat ditemui usai bertemu MS Hidayat di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (11/10/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif mengatakan, negara-negara lain seperti Singapura, dan Malaysia membebaskan bea masuk untuk impor komponen pesawat terbang. Sedangkan di Indonesia bea masuk impor komponen pesawat terbang bisa mencapai 7%.

"Jadi kalau kita mau meningkatkan daya saing apalgi menjelang open sky 2015, kita perlu dukungan pemerintah untuk membebaskan biaya-biaya yang tinggi. Karena rangenya bisa samapai 5-7%. Kalau di Singapura dan Kuala Lumpur. Impor komponen pesawat tidak kena bea masuk. Jadi kita minta dukungan Menperin, untuk item pesawat bisa dibebaskan," imbuhnya.

Dalam satu unit armada pesawat, Arif mengatakan setidaknya ada 300 item. Jika bea masuk impor produk tersebut masih tinggi, dikhawatirkan daya saing industri penerbangan Indonesia akan kalah bersaing. Ia menambahkan biaya operasional maskapai penerbangan, sebanyak 15% dikontribusi dari nilai impor komponen pesawat.

"Tanggapan Menperin positif untuk membantu industri penerbangan," tutupnya.

(zlf/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads