"Tadi disampaikan Ketua GAPKI (gabungan pengusaha kelapa sawit), 25 juta ton CPO, Indonesia telah menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia, posisi ini tentunya jadi modal yang kuat bagi Indonesia untuk lebih berperan dalam perdagangan CPO dunia," kata Suswono di acara konferensi minyak kelapa sawit ke-9 (Indonesian Palm Conference) di Trans Luxury Hotel, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/11/2013).
Acara yang bertemakan 'Managing Market, Strengthening Industry Value Chain' tersebut dibuka oleh Presiden SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di samping itu pendapatan dari pungutan ekspor pihak luar produk kelapa sawit komulatif telah mencapai lebih Rp 50 triliun," katanya.
Ia juga mengatakan sawit merupakan produk pertanian yang saat ini paling siap sebagai sumber bahan bakar terbarukan. Pemerintah telah berkomitmen mengantisipasi krisis energi masa depan dengan regulasi bahan bakar nabati (BBN) sebagai pengganti bahan bakar minyak dan fosil.
Suswono juga mengatakan perkebunan kelapa sawit tidak hanya dimiliki oleh perkebunan besar namun juga perusahaan kecil dan perkebunan rakyat. Berdasarkan data, dari 9 juta hektar lahan sawit, sekitar 41% diusahakan perkebunan rakyat. Selain itu, yang menggembirakan sektor kelapa sawit telah menyerap lebih dari 4,5 juta tenaga kerja di budi daya.
"Penyerapan tenaga kerja ini tentunya lebih besar lagi kalau diperhitungkan tenaga kerja di sektor industri, perdagangan, dan jasa lainnya di bidang agribisnis kelapa sawit," katanya.
Ia menembahakan dari sisi pengembangan wilayah, pembangunan industri kelapa sawit mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Selama ini lahan perkebunan sawit umumnya dibangun di daerah terpencil.
"Tanaman kelapa sawit juga menjadi bagian dari pelestarian fungsi lingkungan hidup, terutama dalam memfiksasi CO2 menjadi O2 serta mengubah lahan terlantar jadi produktif untuk kebun kelapa sawit," katanya.
(hen/dru)










































