Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjelaskan armada ATR sangat cocok untuk melayani penerbangan jarak pendek yang memiliki runway (landasan pacu) kurang dari 1.600 meter sehingga mampu menjangkau daerah-daerah pusat pertumbuhan ekonomi baru dan tujuan wisata di pelosok.
Emir juga menjelaskan armada ATR ini punya teknologi pesawat terkini yang tak kalah dengan pesawat jet sekelas Boeing atau Airbus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski masuk tipe pesawat baling-baling. Penumpang saat di dalam cabin terasa seperti berada di pesawat jet. Suara bising dari putaran pesawat bermesin turboprop ini dapat diminimalkan.
"Nggak berisik kok," jelasnya.
Emir menjelaskan armada ATR ini nantinya melengkapi pesawat bermesin jet CRJ 1000 melayani rute-rute pendek. Ia menjelaskan armada ATR lebih cocok untuk rute pendek dengan landasan pendek.
"Karena keterbatasan lahan. Jadi landasannya pendek oleh sebab itu kita bawa ATR," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Emir membantah pemilihan armada ATR dipilih karena pesawat CRJ yang dimiliki perseroan terbilang boros secara bahan bakar.
"Nggak juga. Masing-masing pesawat itu ada fungsingnya ATR dan CRJ. Masing-masing punya pasar," tegasnya.
Penerbangan perdana secara komersial untuk armada ATR ini akan dimulai pada tanggal 3 Desember 2013. Rute komersial yang dibuka dari Denpasar-Labuan Bajo (NTT)-Ende (NTT). Pada hari yang sama, Garuda Indonesa melayani rute Denpasar-Bima (NTB)-Mataram (NTB).
Hingga akhir 2013, Garuda Indonesia menerima kedatangan 2 armada ATR. Sementara hingga tahun 2017, sebanyak 35 armada ATR tipe 72-600 in bakal memperkuat penerbangan rute-rute jarak pendek Garuda Indonesia.
(hen/ang)











































