"Hari ini Bea Cukai melaunching layanan standar custom yang dinamakan Indonesia Authorized Economic Operator (AEO) yang dibuat oleh World Custom Organization (WCO). Layanan ini khususnya kami berikan terlebih dahulu untuk 9 perusahaan yang trusted (dipercaya) jadi tidak perlu pengawasan serius kepada mereka," ungkap Dirjen Bea Cukai Agung Kuswandono saat memberikan sambutan dan pengenalan sistem ini di Kantor Pusat Bea Cukai Rawamangun Jakarta Timur, Selasa (17/12/2013).
Berikut ini 9 perusahaan yang dapat kemudahan ekspor, antaralain:
- PT Asahimas Chemical.
- PT Aspec.
- PT Indah Kiat Paper Tbk.
- LG Electronic Indonesia.
- Philips.
- Smart Tbk.
- Toyota Motor Manufacturing.
- Unilever.
- Nestle.
Untuk mendapatkan layanan ini, Bea Cukai telah melakukan audit kepada 9 perusahaan itu. Setelah diaudit, 9 perusahaan ini mendapatkan sertifikat Low Risk sehingga bisa dimasukan ke dalam layanan AEO. Bea Cukai tidak perlu menerapkan pengawasan head to head kepada 9 perusahaan itu jadi hanya diaudit di waktu tertentu.
"Cukup dilakukan audit kepabeanan dan mereka dapat melakukan ekspor dengan mudah. 9 perusahaan itu sebelumnya telah diaudit dan mereka termasuk ke dalam perusahaan trusted tinggi. Penilaian itu tidak mudah tetapi kita lihat kinerja 2 tahun ke belakang track record-nya seperti apa jadi tidak pernah melakukan pelanggaran, tidak pernah menunggak pajak dan tidak pernah melarikan bea masuk. Sehingga dia mendapatkan sertifikat Low Risk dan masuk ke sistem AEO," tuturnya.
Indonesia merupakan negara ke-71 yang menggunakan sistem ini. Sebelum memberlakukan sistem baru ini, Bea Cukai sudah melakukan study banding ke Belanda, Korea Selatan, Jepang dan negara-negara ASEAN. Hasilnya sistem AEO sangat penting diberlakukan di Indonesia.
Ditargetkan di tahun mendatang, AEO akan menjaring 110 perusahaan lokal, terdiri dari eksportir maupun importir. Nantinya sistem AEO akan dipegang khusus oleh satuan unit sistem di dalam organisasi DJBC.
"Proses untuk memberlakukan AEO ini tidak mudah, apakah kita mampu melaksanakannya ternyata kita bisa. Untuk itu tim sudah melakukan workshop. Dengan 9 peerusahaan ini kita baru awal, kita akan menyiapkan juga re-organisasi untuk menangani ini. Semacam unit khusus menangani AEO," katanya.
(wij/hen)











































