"Berarti rokok itu masih disukai, konsumsinya itu cukup tinggi. Meningkatnya jumlah penduduk juga meningkatkan konsumsi," kata Direktur Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Enny Ratnaningtyas kepada detikFinance, Selasa (24/12/2023).
Sampai saat ini tidak diketahui berapa jumlah penduduk Indonesia yang menjadi penghisap rokok aktif. Namun berdasarkan data Pusdatin Kemenperin tahun 2012, produksi rokok di dalam negeri mencapai 311 miliar batang. Angka ini belum termasuk rokok luar negeri yang diimpor masuk ke Indonesia yang jumlahnya mencapai 21 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah melakukan pengetatan konsumsi rokok karena dinilai merugikan kesehatan, juga berdampak buruk bagi anak-anak di bawah umur. Salah satunya dengan menaikkan cukai rokok, juga untuk meningkatkan pendapatan devisa negara.
Cukai berlaku untuk 3 barang antaralain rokok, minuman beralkohol dan ethyl alkohol untuk keperluan obat-obatan. Dari ketiga produk tersebut rokok adalah komoditas yang paling dominan berkontribusi terhadap penerimaan cukai.
Enny mengatakan, cukai rokok di tahun 2012 mencapai Rp 85 triliun, sedangkan minuman beralkohol hanya berkontribusi sekitar Rp 3,5 triliun hingga Oktober 2013 dari target Rp 3,8 triliun. Sedangkan tahun depan target penerimaan cukai dari minuman alkohol Rp 5,38 triliun.
"Itu karena banyak minuman beralkohol yang ilegal nggak bayar cukai. Itu yang harus ditertibkan," tambahnya.
Meski semua produk minuman beralkohol menerapkan cukai sesuai aturan, diyakini rokok akan masih menjadi penyumbang cukai terbesar untuk negara lantaran rokok masih banyak dicari.
"Karena kenaikkan cukainya pun masih bisa diterima," kata Enny.
Jumlah perokok di Indonesia sangatlah banyak, salah satu pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, rokok tak hanya digandrungi kalangan menengah ke atas.
Kebanyakan orang miskin yang merokok pun lebih memilih menghabiskan uangnya untuk membeli rokok ketimbang untuk bahan kebutuhan lain yang lebih perlu.
"Pada Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) terakhir, pola konsumsi beras masih tinggi, saya ingat betul persentase 74% digunakan untuk pangan, 25% untuk non pangan. Dan dari 75% itu 25% nasi. Yang kedua itu rokok, rokok itu besar sekali. Masyarakat miskin daya beli untuk rokok sangat tinggi," ungkap Bustanul beberapa waktu lalu.
(zul/hen)











































