Tahun ini diprediksi rendemen gula hanya naik sebesar 0,8% dari rata-rata 7,18%. Apa sebab rendemen gula nasional masih rendah?
"Jadi produktivitas tebu hanya naik sedikit dan rendemen naik 0,8%. Rata-rata saat ini rendemen hanya 7,18%. Kalau mau menjadi 10% program revitalisasi industri gula harus dilakukan secara keseluruhan," ungkap Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Tito Pranolo saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara Tanah Abang Jakarta, Selasa (21/01/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pengusaha lokal mengaku cukup kesulitan mencari dana khususnya untuk merevitalisasi atau membangun pabrik gula. Untuk membangun satu pabrik gula dengan rendemen hampir 10% diperlukan investasi hingga Rp 2 triliun.
"Tetapi kita sekarang menjadi corporate action harusnya menjadi sebuah kebijakan pemerintah dengan jangka waktu panjang bisa 5 sampai 8 tahun. Teknologinya dipilih dan pemerintah menetapkan kebijakan lalu diberikan insentif. Kalau dilepaskan sulit untuk dilakukan," imbuhnya.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengundang investor asing untuk membangun pabrik gula di Indonesia. Tetapi cara ini dipandang pesimis oleh para pengusaha karena kebijakan yang tidak jelas dari pemerintah untuk mengurusi gula nasional.
"Investor itu takut karena kebijakan gula kita tidak jelas dan kemudian banyak BUMN yang tidak banyak melakukan corporate action. Saya kira perlu ada mekanisme secara bisnis juga dan ada investasi. Industri gula itu padat modal butuh modal besar dan jangka panjang. Kalau kebijakannya tidak pasti, maka investor akan pikir-pikir," katanya.
(wij/hen)











































