Tingkat Produksi Gula di Indonesia Masih Rendah

Tingkat Produksi Gula di Indonesia Masih Rendah

- detikFinance
Selasa, 21 Jan 2014 13:32 WIB
Tingkat Produksi Gula di Indonesia Masih Rendah
Jakarta - Rendemen gula di industri Indonesia hingga sekarang masih di bawah 10%. Rendemen adalah persentase perbandingan antara gula yang dihasilkan dengan tebu yang digiling.

Tahun ini diprediksi rendemen gula hanya naik sebesar 0,8% dari rata-rata 7,18%. Apa sebab rendemen gula nasional masih rendah?

"Jadi produktivitas tebu hanya naik sedikit dan rendemen naik 0,8%. Rata-rata saat ini rendemen hanya 7,18%. Kalau mau menjadi 10% program revitalisasi industri gula harus dilakukan secara keseluruhan," ungkap Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Tito Pranolo saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara Tanah Abang Jakarta, Selasa (21/01/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara yang bisa dilakukan cukup mudah, pengusaha meminta pemerintah agar tidak lepas tangan untuk membantu merevitalisasi industri gula di Indonesia dengan memberikan insentif.

Para pengusaha lokal mengaku cukup kesulitan mencari dana khususnya untuk merevitalisasi atau membangun pabrik gula. Untuk membangun satu pabrik gula dengan rendemen hampir 10% diperlukan investasi hingga Rp 2 triliun.

"Tetapi kita sekarang menjadi corporate action harusnya menjadi sebuah kebijakan pemerintah dengan jangka waktu panjang bisa 5 sampai 8 tahun. Teknologinya dipilih dan pemerintah menetapkan kebijakan lalu diberikan insentif. Kalau dilepaskan sulit untuk dilakukan," imbuhnya.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengundang investor asing untuk membangun pabrik gula di Indonesia. Tetapi cara ini dipandang pesimis oleh para pengusaha karena kebijakan yang tidak jelas dari pemerintah untuk mengurusi gula nasional.

"Investor itu takut karena kebijakan gula kita tidak jelas dan kemudian banyak BUMN yang tidak banyak melakukan corporate action. Saya kira perlu ada mekanisme secara bisnis juga dan ada investasi. Industri gula itu padat modal butuh modal besar dan jangka panjang. Kalau kebijakannya tidak pasti, maka investor akan pikir-pikir," katanya.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads