Mereka berjanji tak akan menaikkan harga produksi akibat banjir, namun yang paling memberatkan mereka adalah potensi kenaikan tarif listrik dan gas yang secara langsung akan menaikkan harga makanan dan minuman.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan omzet industri makanan minuman per tahun mencapai Rp 700 triliun, sebanyak 40% pasar ada di Jabodetabek. Omzet rata-rata per hari bisnis industri makanan dan minuman Rp 800 miliar per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukman memberi contoh, kerugian tersebut belum dihitung dari bisnis makanan dan minuman segar seperti sayur dan buah. Bisnis untuk produk segar lebih besar daripada produk makanan dan minuman olahan.
"Kemarin teman saya kirim barang dari Jawa Tengah baru masuk 4-5 hari ke Jakarta. Kalau itu pangan olahan masih bisa dipakai asal tak busuk, tapi kalau pangan segar maka 50% maka akan sangat rusak," katanya.
Lukman menegaskan produsen makanan dan minuman tidak ada kebijakan untuk menaikkan harga makanan terkait dengan banjir, karena pertimbangan musibah.
"Ini menjadi kebijakan dari masing-masing produsen makanan dan minuman. Saya harapkan tak menaikkan harga terkait banjir, tidak layak menaikkan harga karena musibah banjir," katanya.
Namun ia memprediksi pengusaha akan menaikkan rata-rata sekitar 10% akibat faktor non banjir seperti biaya energi dan kurs. Namun GAPMMI memberikan anjuran kepada produsen untuk tidak menaikkan harga.
"Tahun ini mungkin ada kenaikan harga tapi bukan karena banjir, tapi kurs rupiah, BBM, kenaikan listrik dan gas, terutama impor bahan baku, karena 60-70% bahan baku makanan masih impor," katanya.
(hen/dnl)











































