Menteri Sharif Sebut RI Sudah Terbebas dari Garam Impor

Menteri Sharif Sebut RI Sudah Terbebas dari Garam Impor

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 28 Jan 2014 11:26 WIB
Menteri Sharif Sebut RI Sudah Terbebas dari Garam Impor
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan dalam dua tahun terakhir, Indonesia sudah terbebas dari garam impor. Bahkan ternyata mencapai swasembada. Namun, garam yang dimaksud adalah jenis konsumsi.

"Produksi garam rakyat telah menjadikan swasembada garam konsumsi sejak tahun 2012," ungkapnya dalam Rakornas Perikanan dan Kelautan di Grand Hotel Sahid, Sudirman, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Pada tahun 2012 produksi garam telah mencapai 2,5 juta ton atau di atas kebutuhan yang sebesar 1,5 juta ton. Kemudian pada tahun 2013 dari target 1,8 juta ton, produksi garam hanya sebesar 1,3 juta ton. Namun dari kebutuhan selama 2 tahun ini, masih di atas kebutuhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"2013 realisasi menurun, karena prediksinya 2,5 bulan kemaraunya. Tapi kalau dihitung keseluruhan ada stok dari 2012 yang digunakan untuk kebutuhan 2013," jelas Sharif.

Dijelaskan Sharif, capaian ini merupakan hasil dari Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) yang digagas oleh Kementerian. Di mana mampu mengembangkan petani kecil. Jika dari program ini saja, pada tahun 2012 produksinya menncapai 2,02 juta ton.

"Apa yang telah kita lakukan, dari tahun sebelumnya dari KKP dengan program yang namanya Pugar kita telah membina usaha kecll telah menghasilkan 2,02 juta ton per tahun," ujarnya.

Kontribusi lainnya datang dari perusahaan BUMN PT Garam dan perusahan swasta lainnya. KKP juga menyediakan fasilitas seperti gudang di beberapa lokasi.

"Tahun 2012 itu sudah jauh melebihi kebutuhannya. Di tambah lagi PT Garam kurang lebih 300 ribu ton ditambah pengusaha lain. Tahun 2012 itu 2,5 juta ton. Kelebihan ini diunakan untuk membantu pemenuhan 2013. Proteksi kepada terhadap garam ini dengan cara memberikan gudang," paparnya.

Sementara itu untuk garam industri, kebutuhannya per tahun adalah sebesar 1,8 juta ton. Cicip mengakui ini masih mengandalkan impor. Karena produksinya memang belum mencukupi. "Kalau industri memang masih impor semuanya," kata Sharif.

(mkj/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads