Pada periode 1989-1992, kesejahteraan karyawan Merpati sangat tinggi. Bahkan tertinggi di lingkungan BUMN mengalahkan PT Petamina (Persero).
"Saya waktu tahun 1989 gajinya Rp 150 ribu. Beberapa bulan setelah Pak Sumolang masuk, dinaikkan 3 kali lipat ke Rp 500 ribu. Pertamina pun kalah," kata Dewan Penasehat Forum Pegawai Merpati (FPM) I Wayan Suarna di kantor pusat Merpati, Gedung Basarnas, Jakarta Pusat, Selasa (4/1/2014).
Saat ini karyawan Merpati mengalami titik klimaks. Gaji karyawan hampir 3 bulan tak dibayar karena kesulitan keuangan. Selain itu, Wayan menjelaskan pada periode Capt. F.H. Sumolang, Merpati juga memiliki jumlah armada hingga 100 unit. Saat ini jumlah armada aktif Merpati hanya 18 unit.
"Jumlah pesawat 100. Era jet itu di Sumolang. Ada Fokker 28 dan DC9," sebutnya.
Selain itu ia bercerita, Merpati dan PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA) pada periode itu saling bersinergi. Sistem tiket dan penerbangan saling terkoneksi. Merpati bertugas sebagai feeder Garuda hingga ke pelosok negeri.
"Begitu Pak Sumolang diganti, proyek integrasi berhenti," katanya.
Setelah ditinggal Sumolang, Merpati memasuki masa-masa yang penuh gejolak. Dirut baru Ridwan Fataruddin (1992-1995) yang menggantikan Sumolang, harus berhadapan dengan permasalahan kekurangan tenaga pilot, menyusul penarikan kembali armada Garuda dari tubuh Merpati.
Rencana pemisahan kembali dengan Garuda menimbulkan banyak masalah yang menghambat operasi Merpati. Apalagi pemisahan itu juga memberi kesempatan pada Garuda untuk menerbangi rute-rute domestik, yang sebelumnya juga diterbangi Merpati. Garuda dan Merpati pun bersaing di pasar yang sama.
(feb/ang)











































