Menurut Direktur Treasuri Bank Mandiri, Royke Tumilaar, saat ini jumlah utang Merpati kepada bank pelat merah itu sebesar Rp 200 miliar. Kondisi terkini utang tersebut adalah tidak lancar alias kredit macet.
"Kami masih menunggu proposal dari Merpati. Sampai saat ini kami belum mendapat kejelasan rencana atau business plan dari debitur," katanya kepada detikFinance, Jumat (7/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Utang yang tinggi ini, tidak sebanding dengan aset produktif milik Merpati yang mencapai Rp 300 miliar. Aset ini datang dari 2 unit bisnis Merpati yakni Merpati Maintenance Facility (MMF) dan Merpati Training Center (MTC).
Rencananya 2 anak usaha ini akan dijual kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Selanjutnya dana dari penjualan ini digunakan untuk membiayai anak usaha baru Merpati.
Dana segar ini akan digunakan mendukung operasional anak usaha hasil kerjasama dengan swasta. Anak usaha ini nantinya akan menjadi mesin uang Merpati dan tidak terbebani utang induk.
Skema ini sukses dilakukan pada BUMN sakit seperti PT PANN (Persero) dan PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo). Justru anak usaha tumbuh dan mampu menjadi mesin uang bagi induk.
(ang/dnl)











































