"Rapat malam ini lebih pada mempertemukan Pertamina dan pengusaha yang memproduksi bahan bakar nabati," ujar Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro ditemui usai rapat di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (7/2/2014).
Bambang menambahkan, selain pertemuan tersebut membahas formula harga yang akan digunakan dalam pembelian BBN oleh Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Kementerian Keuangan juga telah menghitung, formula harga tersebut tidak akan melewati pagu anggaran subsidi Bahan Bakar Nabati (BBN) pada APBN 2014.
"Kita juga sudah hitung, harganya tidak akan melebihi pagu anggaran subsidi BBM dalam APBN 2014, masih dalam hitungan subsidi BBN Rp 3.000 per liternya," ujar Bambang.
Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat menambahkan, pemerintah akan mengikat para produsen BBN ini dalam jangka waktu yang panjang.
"Jadi jangan sampai dengan harga yang sekarang ini (CPO) lagi murah mereka datang ke kita. Sedangkan pas harga internasional naik, mereka kabur (diekspor)," ucap Hidayat.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi yang hadir dalam pertemuan itu juga menambahkan, kesepakatan ini akan memberikan keuntungan kedua belah pihak.
"Pengusaha untuk BBN-nya dibeli, pemerintah untung karena subsidi bisa ditekan. Karena BBN ini jauh lebih murah dibandingkan impor solar," katanya.
Selain itu, kebijakan pemanfaatan CPO untuk bahan bakar ini tidak akan mengganggu kebutuhan untuk pangan khususnya minyak goreng.
"Tidak sampai mengganggu, karena CPO kita 24 juta ton, untuk minyak goreng hanya 4-6 juta ton saja, masih jauh," tutup Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franky Welierang yang juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Wamen ESDM Susilo Siswoutomo, Dirut Pertamina Karen Agustiawan, dan Chairmain PT Smart Tbk Franky Widjaja.
(rrd/dnl)











































