Hatta Cerita Soal Garuda yang Pernah Bernasib Mirip Merpati

Hatta Cerita Soal Garuda yang Pernah Bernasib Mirip Merpati

- detikFinance
Rabu, 12 Feb 2014 14:54 WIB
Hatta Cerita Soal Garuda yang Pernah Bernasib Mirip Merpati
Singapura - PT Merpati Nusantara Airlines ternyata bukan satu-satunya maskapai penerbangan yang masalah keuangan. Nasib ini dulunya juga pernah dialami oleh PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA).

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menceritakan pengalamannya saat menangani Garuda yang hampir bangkrut. Kala itu Ia menjabat sebagai menteri perhubungan.

"Dulu Garuda pas saya menteri perhubungan, pak Jusuf Kalla (wakil Presiden RI) bilang tutup. Karena hari ini kita tutup, besok kita bikin perusahaan penerbangan baru lagi," ungkap Hatta di Grand Copthorne Waterfront Hotel, Singapura, Rabu (12/2/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hatta tidak langsung mengambil keputusan saat itu. Ia memanggil Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar untuk berdiskusi membicarakan nasib Garuda. Hatta masih cukup yakin bahwa maskapai pelat merah tersebut selamat.

"Kemudian saya panggil Pak Emir, saya bilang bahwa satu-satunya yang bisa selamatkan you, kalau sudah bisa dipangkas cost operasional 10%, setidaknya 7% baru bisa selamat. Kalau tidak ini sudah bleeding, cash flow saja negatif. Tidak mungkin diteruskan perusahaan ini," jelasnya

Kepercayaan Hatta langsung disambut optimis oleh Emirsyah. Ia berani memotong biaya operasional dan menuju pada kestabilan keuangan perusahaan. Pemerintah, lanjut Hatta hanya memberikan sedikit bantuan pendanaan.

"Emir minta kasih waktu dua hari dan kembali bilang sanggup. Jalan sudah, selamat. Begitu disanggupin, ongkos operasi diturunkan, pemerintah kasih chip dan utanganya selamat," imbuhnya.

Jangan Asal Tutup

Hatta menilai persoalan yang dihadapi oleh Merpati sangat dilematis. Untuk itu nasib dari maskapai tersebut harus ditentukan dengan sangat hati- hati. Terutama dengan kata penutupan.

"Dilematis itu. Jangan asal ngomong tutup tapi duitnya belum tersedia, chaos itu, ngamuk karyawan, jendela dipecah-pecahin," ungkap Hatta.

Jika maskapai pelat merah tersebut ditutup, maka harus dana sekitar Rp 3 triliun siap pakai. Itu akan digunakan untuk pembayaran gaji yang terlambat dan pelunasan biaya operasional lainnya.

"Siapkan dulu semuanya baru ngomong. Jangan ngomong tutup dulu baru disiapin. Kan panik. Belum digaji kan nggak bisa," tegasnya.

Menurutnya, seperti pilot mungkin akan lebih mudah untuk mencari pekerjaan lainnya. Akan tetapi untuk para pegawai lainnya, Hatta mengilap akan sangat kesulitan.

"Kalau pilot itu gampang, tapi karyawan yang lain kan kasihan. Harus dipikirkan matang lah. Jangan ngomong segera ditutup. sekali pemerintah katakan tutup, panik yang ada," kata Hatta.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads