RI Impor Rp 56 Triliun/Tahun untuk Bahan Baku Pakaian

RI Impor Rp 56 Triliun/Tahun untuk Bahan Baku Pakaian

- detikFinance
Kamis, 13 Feb 2014 14:18 WIB
RI Impor Rp 56 Triliun/Tahun untuk Bahan Baku Pakaian
Jakarta -

Indonesia sampai sekarang masih rutin mengimpor bahan baku tekstil dan produk tekstil (TPT) khususnya serat (benang) buatan yang digunakan untuk memproduksi produk fesyen. Impor bahan baku TPT per tahun mencapai puluhan triliun, tahun lalu tercatat US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp 56 triliun.

"Kita coba melihat sektor bahan baku fesyen, angka yang ada di saya kita memang mengekspor produk tekstil sebesar US$ 10,9 miliar sedangkan impor US$ 5,6 miliar di tahun 2013," ungkap Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah saat membuka konferensi pers Indonesia Fashion Week 2014 di Galeri Nasional Jakarta, Kamis (13/02/2014).

Ia mengungkapkan bahan baku tekstil yang sering diimpor dan sangat dibutuhkan di dalam negeri adalah jenis serat buatan seperti polyester dan serat rayon. Pemerintah ingin penggunaan bahan baku serat buatan bisa dialihkan ke serat alam. Menurutnya hal itu akan dilakukan secara bertahap mengingat produksi serat alam Indonesia cukup banyak dan berlimpah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bagaimana porsi impor kita ini kita isi dengan serat alam secara bertahap apakah 5%, 10% atau kalau bisa semuanya. Bahan baku dari mana? fesyen Indonesia memang sangat kuat di rayon dan polyester," katanya.

Selama 10 tahun terakhir, kementeriannya mencoba menggali Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku teksil. Indonesia punya pasokan serat alami seperti sutera, katun dan SANT (Serat Alam Non Tekstil).

"Ternyata ada juga dari pisang, nenas, ulat doyo sedang terus kami dorong untuk menghasilkan serat alam dan warna alam yang kami coba diangkat dengan teknologi yang ada menjadi teknologi tinggi," ungkapnya.

Β 

Jurus Genjot Ekspor

Bagaimana cara pemerintah mengembangkan industri fesyen di dalam negeri dan meningkatkan ekspor? Menurut Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu ada banyak cara yang bisa dilakukan seperti pengembangan brand lokal dan menciptakan desain fesyen yang baru.

"Produk fesyen kita dikenal tidak hanya di luar negeri tetapi di dalam negeri. Ada program untuk kembangkan industri fesyen yaitu melalui brand dan design. Jadi ada konsep go local and green juga. Kita mencari local value dan kearifan lokal yang diterjemahkan ke fesyen ala Indonesia yang tidak lepas dari tren di luar negeri," katanya saat membuka Press Conference Indonesia Fashion Week 2014 di Galeri Nasional Jakarta, Kamis (13/02/2014).

Dengan cara ini diyakini akan meningkatkan perdagangan produk fesyen baik di luar negeri maupun ekspor. Ditambah lagi dengan menguatnya daya beli masyarakat akan menjadi pemicu berkembang industri fesyen di Indonesia.

"Kita sudah mempunyai kerangka dan kita isi dengan tantangan berupa desain dan mencari market serta industri yang berkelanjutan," cetusnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Emilia Suhaemi menambahkan ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengembangkan industri fesyen.

Caranya adalah mengelompokan pelaku usaha fesyen menjadi satu wadah agar posisi daya tawar poduknya tinggi. Selain itu memudahkan para pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman modal dari perbankan.

"Jumlah pelaku usahanya 3,5 juta dan menyebar ke kelompok-kelompok sehingga posisi daya tawar meereka rendah," katanya.

Selain itu, mitra perbankan untuk memberi pinjaman modal belum cukup dan daya saing belum kuat. Perlu ada organisasi formal yang berbadan hukum seperti koperasi untuk pelaku usaha fesyen agar punya benefit yang diterima dan dinikmati secara langsung oleh pelaku UKM fesyen.

Produk fesyen merupakan industri ekonomi kreatif kedua terbesar di Indonesia dengan nilai pendapatan sebesar Rp 180 triliun. Jumlahnya industri ekonomi kreatif di Indonesia ada 52 sektor yang nilainya Rp 642 triliun. Fesyen itu kontribusinya 2% bagi PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dengan pertumbuhan 6,4% di tahun 2013.

Ada 3,8 juta tenaga kerja yang diserap oleh industri fesyen dan menyumbang Rp 76 triliun terhadap angka ekspor. Itu menggambarkan pentingnya industri fesyen di industri kreatif.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads