Bagi Damri, produk bus buatan PT INKA secara kualitas masih di bawah bus buatan China. Hal ini menjadi keluhan bagi Damri sebagai konsumen PT INKA dan operator TransJakarta koridor 11.
"Waktu launching di koridor 11. Hari pertama launching biasa, hari ke-2 manajemen Damri dibikin shock. Power steering nggak jalan, pemantiknya mati semua," kata Direktur Utama Damri Agus Suherman Subrata di Kantor Pusat Damri Jakarta, Kamis (13/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab bus yang dioperasikan di koridor 11 ini, dibeli oleh Pemprov DKI. Hal ini berbeda saat Damri membeli 66 unit bus Zong Tong dari China. Damri menentukan betul rancangan body hingga mesin bus secara detail. Sampai-sampai, Damri mengawasi proses produksi di China.
"Kalau operator kita hanya terima bus apa adanya. Itu kesulitan dalam perawatan. Kalau sebagai investor, kualitas bus kita bisa jaga," terangnya.
Menurutnya pihaknya bukan berarti anti terhadap produk dalam negeri termasuk karya BUMN. Damri tetap memprioritas bus dalam negeri namun kualitas dan spesifikasi harus memenuhi kriteria perusahaan.
"Saya dorong teman-teman INKA, kalau buat bus yang bagus. Anda harus punya produk lain, punya ISO sekian. Itu prasyarat Damri. Karoseri juga harus punya ISO," jelasnya.
Ketika dibanding dengan bus Zong Tong yang dibeli Damri. Sejak beroperasi awal 2013 di koridor 1 dan 8, bus buatan China relatif sangat jarang mengalami masalah. Bahkan memperoleh predikat sebagai bus dengan layanan terbaik. Meski ada masalah, persoalan timbul umumnya karena kondisi jalan yang kurang baik sehingga membuat suspensi bus terganggu. Bahkan pada jalan-jalan tertentu, bus kerap terkena paku.
"Zong Tong pernah derek, karena air suspension jelek. Itu karena jalan jelek. Di sini (jalan busway) ada pertemuan beton dan aspal yang tinggi," terangnya.
(hen/hen)











































