Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan sudah lama produk apparel buatan Indonesia meramaikan pasar di luar negeri. Alasannya, pembeli di Eropa sengaja meminta pasokan dari berbagai negara termasuk Indonesia dengan pertimbangan bisnis.
"Indonesia ada, Vietnam juga ada. Ada juga dari China, karena itu setiap pemegang merek di piala dunia, itu pasti menempatkan ordernya di suatu negara. Karena itu untuk menjamin ketibaan barang tepat pada waktunya," kata Ade saat dihubungi detikFinance, Senin (17/2/2014).
Ade menjelaskan, jika suatu negara tidak bisa memasok produk sesuai dengan kuantitas yang dibutuhkan, maka produknya bisa ditutupi oleh hasil dari negara lain.
"Karena itu sudah biasa. Dari pembeli Eropa, Amerika itu sangat berhati-hati. Misalkan sedang bencana (Gunung Kelud) seperti ini, kita tidak bisa memasok, jadi ada barang dari negara lain," katanya.
Ada yang menarik dari bisnis ini, Ade mengatakan jika tim yang dibuatkan produk kaosnya menunjukkan performa buruk di sebuah pertandingan atau liga, maka harga produknya akan turun. Sehingga penjual mengantisipasi produk tersebut akan tidak laku.
"Itu sudah kebijakan dari store-nya. Kalau tim unggulan biasanyaa repeat order (pesan ulang)," tambah Ade.
Sudah puluhan tahun produk tekstil, garmen asli Indonesia masuk ke pasar Eropa dan negara-negara lain di dunia. Bahkan, beberapa tahun lalu, bola buatan Majalengka, Jawa Barat sempat dipakai untuk gelaran piala dunia.
(zul/hen)











































