Pasalnya, perusahaan fesyen milik orang terkaya di Eropa, Amancio Ortega, itu gagal mencapai target penjaualan di tokonya Lotte. Sehingga manajemen Lotte pun merasa tidak puas akan kinerja Zara.
Akhirnya pada akhir Januari lalu, toko pakaian milik grup Industria de Diseno Textil itu dicabut dari salah satu mal Lotte di daerah Anyang, sebelah selatan Seoul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak diluncurkan secara resmi 2008 di Korsel, Zara berkongsi dengan Lotte untuk penjualan produk-produknya di negeri ginseng tersebut. Sebanyak 19 toko dari 40 toko Zara di Korsel bertempat di Lotte Department Store.
Lotte sendiri sudah memberikan diskon sewa tempat sebesar 50% bagi Zara supaya malnya bisa didatangi oleh kaum muda trendi masa kini.
Berdasarkan laporan kinerja toko Zara cabang Anyang yang dikutip Asiaone, Selasa (18/2/2014), penjualannya hanya di bawah 200 juta won (Rp 2,2 miliar), bahkan kurang dari setengah hasil penjualan merek lain di mal yang sama dengan ukuran toko yang sama pula.
Omzetnya ini jauh di bawah rata-rata penjualan keseluruhan industri fesyen korsel yang mencapai 3 triliun won di 2013.
"Memang benar industri fesyen menunjukkan pertumbuhan dobel digit, itulah kenapa saatnya kami mengkaji ulang kinerja kami," kata juru bicara Lotte.
Rumor perceraian antara Lotte dan Zara sudah lama beredar di Korsel setelah muncul isu bahwa harga jual produk-produk Zara di Korsel lebih mahal daripada yang dijual di negara lain.
Hasil riset Seoul National University menunjukkan fakta mengejutkan bahwa ternya isu itu benar, produk-produk Zara di Korsel lebih mahal 25% daripada yang dijual di AS, Jepang, dan China.
(ang/dnl)











































