"India itu petani garamnya jadi eksportir, kalau kita produksi garam kita saja masih belum kuat," ungkap Anggota Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (A2PGRI) Faisal Baidowi kepada detikFinance, Sabtu (22/02/2014).
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di tahun 2011, India adalah negara penghasil sekaligus eksportir garam keempat terbesar di dunia dengan produksi garam mencapai 18 juta ton/tahun. Produsen sekaligus eksportir terbesar garam masih dipegang China dengan jumlah produksi garam per tahun mencapai 65 juta ton, disusul Amerika Serikat dengan produksi 44 juta ton dan Jerman 20 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah di sana tidak banyak ngomong. Petani langsung diproteksi dan difasilitasi agar petani garam bisa maju. Kemudian lahan di restrukturisasi dan produk garam distandarisasi menjadi garam modern. Kalau pemerintah kita sangat berbeda, kita itu kebanyakn kampanye," imbuhnya.
Jangankan menjadi eksportir, petani garam di Indonesia juga tidak dapat meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan. Hal itu disebabkan karena rendahnya harga patokan pembelian garam yang ditetapkan oleh pemerintah.
"Perbaikan yang signifikan membuat garam yang bagus buat apa dilakukan. Bisa saja itu dilakukan tetapi harga pembelian garam di petani masih rendah. Harga garam kualitas 1 masih di bawah Rp 450/kg, kualitas 2 Rp 400/kg dan kualitas 3 hanya Rp 375/kg," jelasnya.
(wij/ang)











































