Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) Widya Beunastuti mengatakan, berdasarkan data yang dimiliknya, pemalsuan obat secara global pada 2010 mencapai US$ 75 miliar atau Rp 750 triliun.
"Di Indonesia sendiri, pemalsuan obat tumbuh subur dengan estimasi omzet sebesar US$ 200 juta per tahun, merupakan 10% dari total farmasi di Indonesia. Bahkan kami juga menemukan industri kosmetika menempati posisi teratas yang sering dipalsukan dari 12 jenis industri yang rentan pemalsuan," ungkap Widya ditemui di sela Diskusi dan Peluncuran Kompetisi Iklan Masyarakat tentang Bahaya Obat dan Kosmetik Palsu Bagi Indonesia, di @amerika, di Pacific Place Mal, Rabu (26/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Obat-obatan yang sering dipalsukan yang kami temukan seperti obat-obat malaria dan diabetes, jadi bisa berbahaya terhadap kesehatan bahkan menyebabkan kematian," katanya.
Apalagi, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya obat dan kosmetik ilegal dan palsu membuat permintaan obat palsu makin tinggi.
"Karena pengetahuan masyarakat di Indonesia masih rendah, sehingga tidak paham bahayanya obat palsu atau ilegal, makanya ada obat palsu itu salah satunya karena banyak yang beli," tutup Widya.
(rrd/dnl)











































