2 Maskapai Australia Rugi Besar-besaran

2 Maskapai Australia Rugi Besar-besaran

- detikFinance
Jumat, 28 Feb 2014 10:42 WIB
2 Maskapai Australia Rugi Besar-besaran
Foto: Reuters
Sydney - Setelah kemarin maskapai penerbangan asal Australia Qantas merugi AUD 235 juta (US$ 210 juta) atau sekitar Rp 2,1 triliun dalam 6 bulan hingga 31 Desember 2013, giliran Virgin yang rugi AUD 83,7 juta (US$ 75 juta) atau sekitar Rp 750 miliar di periode yang sama.

Virgin merupakan maskapai penerbangan murah Australia. Pihak Virgin menyalahkan ketatnya kompetisi, turunnya jumlah penumpang, dan ketidakpastian ekonomi.

Sebelumnya, Qantas mengaku ingin memangkas 5.000 karyawannya karena rugi besar yang dialaminya. Virgin merupakan maskapai penerbangan terbesar kedua di Australia. Padahal dalam periode yang sama tahun sebelumnya, Virgin masih untung AUD 23 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hasil ini merefleksikan beratnya kondisi sektor industri secara keseluruhan," ujar Chief Executive Officer Virgin John Borghetti dilansir dari AFP, Jumat (28/2/2014).

"Pasar penerbangan Australia masih terpengaruh oleh lemahnya kondisi ekonomi tahun lalu," tambah Borghetti.

Maskapai ini mengatakan, banyaknya pungutan pajak, seperti pajak karbon polusi, telah membebani keuangannya sebanyak AUD 23 juta tahun lalu. Virgin merupakan maskapai yang mayoritas sahamnya dimiliki Singapore Airlines, Air New Zealand, dan Etihad. Pendapatan maskapai ini sebenarnya naik 6,4% menjadi AUD 2,2 miliar pada 6 bulan yang berakhir 31 Desember 2013. Namun beban biaya maskapai ini naik 4,5%.

Kemarin, Chief Executive Officer (CEO) Qantas yaitu Alan Joyce menyatakan, dalam 6 bulan terakhir, maskapai ini menghadapi tingginya harga bahan bakar serta beratnya persaingan di dunia penerbangan. Selama 6 bulan terakhir yang berakhir 31 Desember 2013, Qantas mengalami kerugian AUD 235 juta (US$ 210 juta) atau sekitar Rp 2,1 triliun.

Qantas berencana memangkas 5.000 pekerjanya, karena kerugian besar yang dideritanya dalam 6 bulan terakhir. Bahkan maskapai ini membatalkan pembelian pesawat dan menunda ekspansinya di Asia lewat maskapai Jetstar.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads