Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yongki D Sugiarto mengaku baru mendengar kabar tersebut dari media. Menurutnya, Gaikindo tidak bisa merekrut para ahli dari Australia tersebut karena merupakan suatu asosiasi bukan sebagai perusahaan.
"Belum, kami memang tahu tentang itu banyak merek di Australia yang akan menghentikan operasinya. Tapi kita nggak tahu lagian Gaikindo tidak bisa rekrut dia, kan asosiasi," kata Yongki saat dihubungi detikFinance, Jumat (28/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya SDM kita sudah bagus, makanya. Apakah perlu itu saya nggak tahu, Kalau menurut saya pribadi bukan atas nama Gaikindo, SDM kita sudah bagus. Nggak perlu banget-banget ekspatriat lagi. Kalau menurut saya pribadi, SDM kita cukup banyak dan sanggup," jelas Yongki.
Meski demikian, Yongki mengatakan, sah-sah saja jika ada pabrikan otomotif di Indonesia yang berniat merekrut para ahli dari Australia tersebut.
"Tapi ya silakan saja kalau berminat merekrut. Yang mau bayar, skill-nya bagus, istilahnya yang know how," ucapnya.
Ia juga mengatakan kecil kemungkinan relokasi pabrik ketimbang hanya ahlinya saja yang didatangkan ke Indonesia. Pasalnya, beberapa perusahaan otomotif di Australia pun sudah ada di Indonesia.
"Pabrik kan begini yang betul-betul Australia itu cuma satu, Holden. Yang lain Toyota tutup, di sini juga ada, merek lain juga sudah ada di sini. Kalau Holden memang belum ada, apakah General Motors mau. Buat kita sih welcome apa saja yang mau masuk," tutup Yongki.
Menteri Perindustrian RI Mohamad S. Hidayat menerima kunjungan Mr. John Conomos AO dari Automotive Industry Envoy Australia, di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 26 Februari 2014. Dalam pembicaraan tersebut ada tawaran dari pihaj Australia soal tenaga ahli dan teknologi mereka untuk industri Indonesia.
(zul/hen)











































