Mengurai Penyebab Kalahnya Ekspor Produk Kayu RI dari China

Mengurai Penyebab Kalahnya Ekspor Produk Kayu RI dari China

- detikFinance
Selasa, 11 Mar 2014 16:47 WIB
Mengurai Penyebab Kalahnya Ekspor Produk Kayu RI dari China
Foto: Pameran Furnitur (Wiji-detikFinance)
Jakarta - Ekspor produk kayu Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Malaysia dan Vietnam. Bahkan jauh bila dibandingkan China yang menguasai pasar ekspor kayu dunia.

Setiap tahun, Indonesia hanya dapat mengekspor produk kayu US$ 1,7 miliar, sedangkan Vietnam mampu mengekspor US$ 4 miliar, dan Malaysia US$ 2,4 miliar.

UNtuk ekspor produk kayu China, nilainya bisa mencapai US$ 30 miliar dalam setahun.

Ketua Asosiasi Mebel Kerajinan Indonesia (AMKRI) Soenoto mengakui, ada beberapa perbedaan kebijakan yang cukup signifikan antara pemerintah Indonesia dan China. Pemerintah China sangat responsif menggenjot ekspor produk kayunya ke luar negeri.

"Kita jelas kalah dengan China, pemerintah di sana sangat mendukung baik dari aspek regulasi maupun pengembangan teknologi. Kemudian pengembangan dunia usaha produk kayu di China juga dilindungi oleh pemerintahnya," ungkap Soenoto saat dihubungi detikFinance, Selasa (11/03/2014).

Berbeda dengan China, Indonesia masih berkutat pada masalah rendahnya kualitas produk kayu yang dihasilkan. Produk olahan kayu yang dihasilkan Indonesia rata-rata masih rendah dan belum bisa bersaing dengan China.

"Di China kualitas hasil produk kayunya sangat color full. Desain mereka sudah dipoles dengan teknologi yang mereka miliki. Kita butuh konsep yang mereka lakukan yaitu no design no business," imbuhnya.

Padahal menurut Soenoto, kualitas kayu Indonesia jauh lebih baik bila dibandingkan kayu asal China. Saat ini kayu yang paling dikenal dan paling baik di dunia adalah kayu jati grade A dengan harga rata-rata Rp 10 juta per batang. Sementara grade B dan C yang jadi bagian para pengrajin dijual di kisaran Rp 5-7 juta.

"Jika dilihat dari kualitas kayu, kita jauh lebih unggul dan lebih variatif. Yang membedakan hanya masalah kebijakan. Bahwa kalau kita ingin memajukan industri kayu harus butuh seraruh jumlah kabinet campur tangan masalah ini," cetusnya.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads