Menurut IATA, besaran ini mengalami penurunan sebesar US$ 1 miliar dari perkiraan sebelumnya yang diterbitkan pada bulan Desember.
Kondisi ini diakibatkan oleh ketegangan politik di negara-negara termasuk Ukraina yang diharapkan dapat mendorong kenaikan harga minyak rata-rata US$ 108 per barel atau lebih US$ 3,5 dari yang diharapkan.
IATA mengatakan, tambahan pendapatan yang sebesar US$ 3 miliar akan ditambahkan untuk industri bahan bakar. Hal ini diharapkan dapat diimbangi dengan permintaan yang lebih banyak khususnya untuk kargo karena penguatan ekonomi global.
Sementara prediksi pendapatan yang didapat akan ditekan oleh biaya bahan bakar, pendapatan industri diperkirakan akan meningkat secara keseluruhan. Pendapatan industri diprediksi dapat mengalami kenaikan dari US$ 745 miliar atau US$ 2 miliar lebih dari yang diproyeksikan sebelumnya.
"Akibatnya, ini adalah Tweak dan perkiraan keseluruhan masih sangat selaras dengan pemikiran kami pada Desember lalu," kata Kepala IATA Tony Tyler dikutip dari AFP, Kamis (13/3/2014).
Jika sektor ini memberikan perkiraan pendapatan baru, IATA mengatakan jumlah ini masih akan menandai keuntungan tertinggi yang pernah dicapai industri.
Pada 2012 IATA menghasilkan pendapatan sebesar US$ 6,1 miliar. Sedangkan keuntungan tahun lalu adalah sebesar US$ 12,9 miliar.
"Secara umum proyeksi outlook positif. Kemajuan siklus ekonomi mendukung suasana permintaan yang kuat. Kami juga sedang menghadapi tantangan yaitu tingginya biaya bahan bakar saat adanya ketidakstabilan geo-politik," kata Tyler.
(zul/ang)











































