Kepala Badan Pengkajian Kebijakan dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Aryanto Sagala mengatakan, tenaga kerja di Indonesia masih kurang produktif, namun lebih banyak menuntut kenaikan upah.
"Sebenarnya tenaga kerja kita banyak nuntut," kata Aryanto di acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Ramada Hotel, Kuta Bali, Jumat (14/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lihat orang Vietnam, mereka itu tenaga garmen bisa menghasilkan 8 celana per hari dengan 44 jam kerja per minggu. Dia dibayar sekitar US$ 65 (Rp 650.000 per bulan). Kita yang 6 celana per hari, per minggu 40 jam. dia (buruh Indonesia) minta di atas US$ 220 (Rp 2,2 juta per bulan)," tambah Aryanto.
Ia mengaku khawatir dengan kondisi semacam ini. Alasannya, bagi investor pasti akan memilih daerah-daerah yang tidak akan terlalu banyak menguras biaya produksi.
"Sekarang kalau investor Jepang atau Korea, ya pasti akan lebih milih Vietnam, UMR lebih rendah, listrik lebih murah. Ya ini ancaman buat kita," katanya.
(zul/hen)











































